Seni, Islam dan Seni Islami

komplesk

Sebagai agama fitrah, Islam memahami kebutuhan raga dan jiwa manusia. Salah satu kebutuhan jiwa manusia adalah keindahan. Seni membuat apa yang dipikirkan dan diinginkan manusia tentang keindahan mewujud secara konkret. Seni suara, seni tulisan, seni gerak, seni peran, seni lukis, seni pertunjukan dan seni-seni yang lain pada dasarnya merupakan ekspresi jiwa manusia yang menyukai keindahan. Ini wajar belaka, mengingat manusia adalah hamba Allah Yang Mahaindah dan menyukai keindahan.

Tidak Bebas Nilai

Karena sumber keindahan dalam seni Islam adalah Allah SWT, tentu saja seni dalam Islam berangkat dari dan berposes menuju Allah. Ia tidak bebas nilai. Seni dalam Islam memberi ruang kepada segala bentuk keindahan sejauh selaras dengan titah dan perintah Allah dan Rasul-Nya, membuat manusia semakin dekat kepada Allah, dan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah karena keindahan yang diciptakan, dinikmati dan disaksikannya disadari sebagai manifestasi keindahan Allah Yang Mahaindah. Seni yang demikian tentu saja tak hanya memenuhi kebutuhan manusia akan keindahan. Lebih dari itu ia akan memberikan keindahan yang menenangkan hati dan membahagiakan jiwa. Rasa keindahan yang dihasilkannya tak berhenti pada tatapan mata, melainkan sampai ke tangkapan matahati.     

Berkesenian dalam Islam memang tidak bebas nilai. Semegah dan seindah apapun karya seni, jika melewati batas kebolehan dan kepantasan, membuat manusia meninggalkan kewajiban, menyebabkan manusia terjatuh di jurang kemaksiatan, menyakiti sesama, mengganggu keamanan dan ketertiban umum, serta merusak alam dan tatanan sosial yang baik, apa yang dianggap seni oleh manusia tak layak disebut seni Islam, sekalipun ada simbol-simbol Islam di sana. Misalnya, lagu-lagu berbahasa Arab yang liriknya tentang nafsu bercinta. Sekalipun dibawakan oleh penyanyi berjilbab dan musiknya ala padang pasir, yang demikian tidak bisa disebut seni Islami. Sebaliknya, tanpa simbol Islam apapun, jika isi dan pesan yang disampaikan melalui sebuah karya seni sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits, karya seni itu layak disebut seni Islami. Lagu anak-anak berbahasa Indonesia seperti Pelangi dan Satu-satu Aku Sayang Ibu, misalnya, patut disebut seni Islami karena mengajak mengagumi ciptaan Allah serta menyayangi ibu dan ayah.

Tak Pernah Terpisahkan

Islam dan keindahan sesungguhnya tak pernah terpisahkan. Bukti paling nyata adalah   Al-Qur’an. Kitab suci ini setiap katanya bernilai sastra yang tak tertandingi sepanjang zaman. Dengan ketinggian sastranya dan kedalaman isi dan pesannya, Al-Qur’an menantang semua penentangnya, para penyair Arab yang di era itu menjadi kelompok elit lantaran sastra Arab menjadi simbol utama kemajuan peradaban Arab. Sastra yang diagung-agungkan masyarakat Arab hadir dalam Al-Qur’an. Namun lebih dari sastra manusia yang isinya sebatas pikiran dan pengalaman manusia, sastra dalam al-Qur’an menghadirkan pesan dan petunjuk yang komprehensif untuk meraih keselamatan dunia dan akhirat, termasuk membangun tatanan kehidupan sosial yang adil dan berakhlak. Yang demikian tidak terdapat dalam karya sastra Arab jahiliyah saat itu yang kecenderungannya berisi pemujaan pada materi dan dunia.

Sabda-sabda Nabi juga bernilai sastra tinggi. Kalimatnya terurai secara singkat, padat, dalam, kuat, dan indah, hingga mudah dihafal dan dicamkan. Para sahabat dan salafussalih juga piawai memberikan nasihat yang terangkai dalam kalimat yang bernilai sastra tinggi. Demikian pula generasi selanjutnya. Karena sastranya yang sangat tinggi,  Al-Qur’an menjadi inspirasi dan referensi ilmu balaghah (sastra Arab) yang mapan hingga kini. Keindahan bahasa al-Qur’an dan al-Hadits yang menyatu dengan kedalaman isinya dan keluhuran nilai-nilai yang disampaikannya menjadi dalil bahwa dalam keindahan itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Islam dan bahwa dalam Islam keindahan tidak pernah boleh dipisahkan dari nilai-nilai luhur.

Turunan al-Qur’an dan al-Hadits

Begitu kuatnya keindahan menyatu dalam al-Qur’an dan al-Hadits, kreasi seni dalam Islam dari masa ke masa banyak diturunkan dari ajaran dan nilai-nilai yang ada dalam dua pedoman umat Islam itu. Bahkan ada seni khusus tentang al-Qur’an. Ada seni melantunkan al-Qur’an (tilawatil qur’an), ada puitisasi al-Qur’an, ada pula seni kaligrafi al-Qur’an. Dari perintah bershalawat juga berkembang aneka shalawat Nabi yang indah. Majlis-majlis Taklim kaum ibu di Indonesia berperan besar dalam melestarikan dan memasyarakatkan seni shalawat.  Ayat, ajaran dan nilai-nilai yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits yang sangat luas dan luhur juga telah menjadi inspirasi seni yang tiada henti, mulai dari film, lagu, novel, cerpen, pertunjukan hingga teater. Fashion muslim pun merupakan seni yang diturunkan dari ajaran al-Qur’an dan Hadits tentang pakaian dan batas aurat.

Al-Qur’an dan al-Hadits adalah sumber nilai dan rujukan utama kreasi dan pengembangan seni-seni Islam. Al-Qur’an dan al-Hadits juga yang membatasi kreasi seni umatnya agar tidak terjatuh kepada syirik, kefasikan dan kemaksiatan. Inilah yang membedakan seni islami dengan seni yang tidak islami. Seni islami berangkat dari nilai-nilai rabbani yang ada dalam al-Qur’an dan al-Hadits, baik seni itu diasosiasilan sebagai produk asli Islam dan masyarakat muslim (seperti seni baca al-Qur’an, seni kaligrafi dan seni shalawat)  atau seni universal yang isinya nilai-nilai dan ajaran Islam, seperti lagu dan musik religi. Sementara seni yang lain tidak berangkat dari al-Qur’an dan al-Hadits.

Kita mengakui, seni-seni Islam dan seni-seni islami yang memadukan keindahan dan keluhuran budi sekaligus saat ini kalah jauh kuantitasnya dibanding karya seni yang hanya berfokus pada keindahan yang kasat mata. Sebabnya jelas, di dunia ini lebih banyak manusia yang berkesenian berdasarkan kehendak bebasnya yang tidak steril dari kecenderungan nafsunya. Tak heran jika lagu, syair, kalimat, gambar dan gerakan yang berkonten pornografi, kekerasan, kejahatan dan penistaan manusia dianggap seni. Pada titik ini seni seringkali dijadikan kuda troya bagi pelampiasan nafsu hura-hura, nafsu leha-leha, nafsu foya-foya, nafsu seks, hingga nafsu berkuasa. Yang demikian tentunya jauh dari sebutan seni islami sekalipun pencipta dan penikmat karya seninya orang Islam. Kita berharap, para pelaku seni, khususnya muslimah, menghasilkan karya seni yang tak hanya indah, tetapi juga menyemaikan nilai-nilai luhur yang disinari oleh al-Qur’an dan al-Hadits. Itulah seni islami yang kita harapkan lebih banyak dicipta dan dinikmati masyarakat, mulai seni sastra, seni lagu, seni musik, seni peran hingga seni fashion dan seni-seni lainnya.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

noormagazine © 2019 All Rights Reserved