Afternoon Tea Fashion IFC Aceh

BHQ_9025

Sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap penerapan syariat Islam dan kebanggaan tersendiri terhadap sejarah bahwa Aceh pernah menjadi pusat perkembangan Islam pertama di nusantara dan juga sebagai bentuk apresiasi terhadap perkembangan fashion muslim tanah air yang semakin baik, Designer Aceh yang tergabung dalam Indonesian Fashion Chamber (IFC) chapter Aceh, berkeinginan membangun dan mengembangkan Industri Fashion di Aceh dengan tetap mengedepankan norma-norma yang disyariatkan dalam Islam.

BHQ_9028

IFC Aceh mencoba untuk mengangkat kembali khasanah ragam hias tradisional yang dimiliki oleh beragam suku yang ada di Aceh kedalam design fashion modern dengan tetap memasukkan unsur-unsur budaya Aceh yang kental dengan nuansa Islami. Sebagai awal dari rencana yang besarini IFC Aceh atas dukungan yang sangat besar dari Ibu Darwati A. Gani yang juga penasehat IFC chapter Aceh menggelar parade peragaan busana muslim dan tutorial make over. Sejalan dengan tema kegiatan yakni afternoon Tea yang santai sederhana, IFC Aceh akan menampilkan koleksi koleksi terbaru mereka yang terinspirasi dari trend fashion modern dunia yang digabungkan dengan kultur budaya Aceh. Fashion show IFC Aceh sendiri akan dibawakan oleh para pemilik brand clothing line masing-masing designer yaitu; SafartiwiGadeng, REBORN29by Syukriah rusydi, Ija Kroengby KhairulFajriYulidarOesman, SafartiwiGadengdanNovita Bachtiar.

 

Safartiwigadeng kali ini temanya “simoelu Uroengoen malam” konsep designnya casual wear penuh semangat muda dan segar. Konsep ini terinspirasi dari kehidupan kita sehari-hari ada sianga dan malam. Si moeluitu adalah motif melati yang diaplikasikan sebagai aksen dengan cara dibordir langsung atau maupun di tempel sedangkan siang dan malam diwujudkan dalam pemilihan warna putih, biru muda, abu-abu, dongker dan hitam. Busana safartiwigadeng kali ini sangat wearable bisa dipadupadankan beberapa kali, bisa bergaya apa saja, bisa feminin, tomboy dan classic dan bisa dipakai oleh siapa saja dan suasana apapun sehingga dapatgunakan oleh siapa saja dan disesuaikan dalam suasana apapun. Yang paling penting harga terjangkau. Disamping itu Tiwigadeng tetap memperhatikan kaedah-kaedah berbusana muslim yang baik dansyar’i karena Islam mencintai keindahan tetapi tidak melanggarsyariat Islam dalam berbusana.

REBORN29 by Syukriah Rusydi, REBORN29 telah dikenal dengan konsep produk mix and match (Padupadan), kali ini akan tampil dengan memadukan beberapa Item pakaian seperti celana, rok, blus ,outer dan lain sebagainya menjadi satu look. Dimana kesemua item tersebut dapat di gunakan secara terpisah sesuai dengan keinginan konsumen. Jadi REBORN29 memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk dapat berkreativitas dan mengembangkan gaya sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Dalam koleksi kali ini REBORN29 juga memasukkan unsur etnik, songket Aceh dengan ragam hias pucuk yang diaplikasikan kedalam design modern sehingga terlihat begitu casual dan wearable. Pemilihan ragam hias pucuk rebung dimaknai sabagai semangat untuk tumbuh dan berkembangnya Industri fashion Muslim Aceh. Penggunaan ragamhias tradisional Aceh dalam bentuk yang lebih modern diharapkan dapat menjadi upaya menggali kembali khasanah budaya lokal yang semakin teser oleh perkembangan Industri modern saat ini.

IJA KROENG by Khairul Fajri, tahun 2018 Ijak roeng mengangkat sekaligus mengkampanyekan “cap sikureung”. Cap sikureung merupakan cap resmi kesultanan Aceh yang digunakan oleh Sulthandan Sulthanah Aceh dalam mengesahkan mandat atau sebuah perintah. Cap resmi kesultanan yang didalam Bahasa Aceh disebut Cap sikureung (cap Sembilan), pemberian nama ini didasarkan kepada bentuk stempel itu sendiri yang mencantumkan nama sembilan orang sulthan dan nama sulthan yang memerintah itu sendiri terdapat ditengah-tengah. Pada segel-segel sulthan aceh, tiga tempat di peruntuk kan kepada raja-raja yang memerintah dari dinasti sebelumnya. Lima tempat diperuntukkan pada raja-raja keluarga sendiri. Dan yang satu dari yang lima adalah raja pendiri dari dinastinya. Dan yang terletak ditengah-tengah yaitu sulthan atau sulthanah (Ratu) yang sedang memerintah. Semoga dengan kampanye ini kaum muda di era modern tidak melupakan sejarah kejayaan Aceh.

 

 

YULIDAR OESMAN, Mengusung tema “etnik elegan” sebuah karya yang bertemakan budaya yang mengangkat motif motif etnik aceh. Perpaduan motif rencong, sirih, melati serta pucuk rebung. Menjadi satu kesatuan yang dinamis danelegan. Yang diaplikasikan kedalam outer dan dress yang didominasi oleh warna hitam dan abu-abu.

NOVITA BACHTIAR, Busana pesta dengan konsep modest konvesional dan inovasi frugal (hemat) yang mengadaptasi pemikiran-pemikiran kultural menggunakan material lokal. Menampilkan garis-garis rancangan kontemporer yang bersih kuat dengan relasi kuat dengan tradisi. Sehingga tampil dengan kemewahan yang terlintas puristis dan dikembangkan dengan cepat namun memenuhi standard kehidupan modern dengan kenyamanannya. Ciri kuat dalam busana ini adalah peleburan antara hitam dan putih, bahwa kegelapan dan cahaya adalah bagian dari kehidupan manusia yang memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dan bertahan dalam beragam kondisi kehidupan. Karena itu meski didominasi dengan kegelapan, dimana kebenaran dan kesalahan menjadi sesuatu yang relative dan abu-abu.

Mengusung temaWe are first dalam pagelaran busana kali ini, IFC Aceh mencoba untuk menggali kembali sejarah perkembangan budaya dan istiadat Aceh yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam itu sendiri. Sejarah kemajuan Islam di Indonesia tidak lepas dari peran Aceh sebagai titik awal masuk serta berkembangnya Islam di nusantara dan terus menyebar seantero Asia Tenggara. Aceh menjadi tempat utama dan pertama dalam proses penyebaran dan pengembangan pemikiran-pemikiran Islam, sehingga menjadikan Aceh sebagai salah satu pusat pendidikan yang menjadi tujuan para pelajar yang datang dari berbagai negeri yang ada dinusantara ini. Aceh merupakan propinsi yang pertama sekali menerapkan syariat Islam sebagai aturan serta norma norma sosial didalam kehidupan bermasyarakat nya.

Fakta sejarah membanggakan ini telah menjadikan Aceh sebagai tolak ukur dalam segala kegiatan yang berkaitan dengan penerapan syariatnya. Fakta ini juga telah memberikan tanggungjawab moral yang besar bagi Aceh untuk selalu menjadi yang terdepan dalam perkembangan dan penerapan syariat Islam ini dalam segala aspek kehidupan, bukan hanya pada tingkatan lokal namun diharapkan mampu menjadi acuan bagi daerah lain secara nasional.

Pagelaran busana ini diharapkan nantinya akan menjadi awal yang baik bagi perkembangan Industri Fashion Muslim di Aceh. Aceh telah memiliki perangkat pendukung yang sangat baik. Aceh telah memiliki designer-designer yang memiliki daya saing dan yang paling penting Aceh telah didukung oleh penerapan syariat Islam. Dengan dukungan berbagai pihak sangat memungkinkan bagi Aceh kembali menjadi yang pertama dalam acuan nasional dalam tata cara berpakaian yang sesuai dengan syariat Islam, so We are First.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

May 2018
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

noormagazine © 2018 All Rights Reserved