ULAMA PEREMPUAN DAN KONFLIK SOSIAL

tafakur-chess-5-1454541Dalam situasi konflik dan perang, perempuan kerap menjadi sasaran teror yang meninggalkan luka parah dan trauma yang dalam. Di satu sisi, perempuan juga harus kuat untuk memulihkan beban mental anak-anaknya yang menjadi korban konflik. Kondisi ini pula yang melahirkan  banyak perempuan pejuang tangguh termasuk ulama perempuan. 

 

Indonesia hari ini sedang menjadi rujukan bagaimana perempuan dan ulama perempuan dapat berperan dalam mencegah, menghentikan dan memulihkan konflik sosial. Di negeri mayoritas muslim yang penuh keragaman ini, Alhamdulillah Indonesia masih berdiri kokoh dan utuh sebagai negara-bangsa. Konflik sosial dan politik yang dibakar oleh sentimen agama dan kemudian memorakmorandakan beberapa negara, seperti Afghanistan, Irak, Suriah, dan Yaman, Alhamdulillah sampai hari ini tidak terjadi di Indonesia.

Masih bertahannya Indonesia sebagai negara yang aman, damai dan utuh ini bukan tanpa perjuangan. Medsos di negara kita yang demokratis saat ini telah menjadi kekuatan yang signifikan untuk memobilisasi opini dan gerakan, baik gerakan yang mengarah pada hal-hal yang positif maupun pada hal-hal yang negatif. Medsos begitu cepat menyebarluaskan hoax dan ujaran kebencian. Keadaan ini tentu merupakan ancaman  tersendiri bagi persatuan dan keutuhan Indonesia.

Negara memang telah mempunyai UU Informasi dan Transaksi Elektronik dan berbagai UU yang lain sebagai payung hukum. Ada polisi dan terakhir Badan Siber dan Sandi Negara yang memiliki tugas antara lain mencegah ancaman siber di dunia maya, proxy war, penyebaran ujaran kebencian dan hoax. Meski demikian hukum dan aparat negara bisa tak berdaya jika masyarakat tidak memiliki kesadaran akan pentingnya persatuan dan kedamaian, serta kesadaran untuk mengendalikan diri.

 

Peran Masyarakat, Termasuk Ulama Perempuan

Masih terjaganya persatuan dan kedamaian Indonesia sampai hari ini tidak lepas dari peran masyarakat, yakni masyarakat yang sadar bahwa jika konflik sosial dan perang saudara terjadi, tak hanya negara yang hancur, tetapi juga kehidupan sosial, ekonomi, budaya, keluarga, aktivitas sehari-hari, termasuk aktivitas beragama, akan terancam porak poranda. Dalam situasi konflik dan perang, perempuan dan anak akan menanggung akibat yang paling berat. Ilustrasi paling sederhananya, andaikata instalasi listik hancur karena terdampak konflik, perempuanlah yang paling direpotkan karena harus mencari air untuk minum, memasak, mencuci, istinja’, wudu dan mandi bagi semua anggota keluarga. Perempuan juga dilanda ketakutan dan was-was jika harus ke pasar, mengantar anak ke sekolah, pergi ke tempat kerja, dan lain-lain. Padahal ia harus lakukan itu semua demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam situasi konflik dan perang, dari dulu hingga kini tubuh perempuan menjadi  sasaran teror tak berperikemanusiaan dengan cara diperkosa, dijadikan budak seks, ditawan, hingga dihabisi dalam rangka melumpuhkan lawan. ISIS saat ini melakukan hal demikian. Begitu pula milisi Budha radikal dan militer Myanmar terhadap perempuan etnis Rohingya. Di Indonesia sendiri juga pernah terjadi hal demikian, yakni di Aceh pada era DOM (Daerah Operasi Militer) dan di Jakarta pada saat kerusuhan Mei 1998.

Dampak konflik sosial yang tidak main-main inilah yang membuat perempuan Indonesia bergerak di ranah masing-masing untuk menjaga perdamaian dan mencegah konflik sosial agar tidak terjadi. Di antara perempuan yang bergerak itu, ulama perempuan mengambil peran penting. Ini karena ulama perempuan selalu ada bersama dan untuk masyarakat, dan karena masyarakat Indonesia yang agamais menjadikan agama sebagai rujukan dalam mengambil langkah dan keputusan penting dalam berbagai bidang kehidupan.

Dengan pengetahuan, pemahaman keagamaan dan kearifan yang dimilikinya, ulama perempuan menyemai perdamaian dan meredam konflik mulai dari tingkat masyarakat akar rumput sampai tingkat  pengambil kebijakan.Melalui pengajian, majelis taklim, lembaga-lembaga pendidikan formal mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi, media massa, media sosial, ormas Islam, LSM, komunitas, organisasi isteri dan lain-lain, para ulama perempuan bergerak menyeru dan menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, haramnya hoax, ghibah dan ujaran kebencian, pentingnya persaudaraan, kondisi aman dan damai agar agama, generasi dan kehidupan bisa lestari. Islam dimaknai sebagai agama perdamaian, kedamaian dan kasih sayang.

Tiga Ukhuwah

Para ulama perempuan juga tak henti-hentinya mengingatkan kearifan ulama Indonesia yang memiliki dan mempraktekkan konsep 3 ukhuwah dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, yakni; Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) yang mempersaudarakan dan mempersatukan umat Islam yang beragam mazhab, ormas dan pandangan keagamaannya; Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sesama saudara sebangsa setanah air) yang mempersaudarakan dan mempersatukan semua anak bangsa Indonesia apapun agama, suku dan rasnya; dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan sesama umat manusia) yang menjadikan semua umat manusia bersaudara sebagai sesama anak Adam yang harus dihormati dan dimanusiakan manusia apapun agamanya, negaranya, bangsanya, jenis kelaminnya.

Dan yang tidak kalah penting, dengan kearifan bangsa Indonesia yang mengedepankan musyawarah, memiliki tepa selira, mengutamakan harmoni dan keguyuban, ulama perempuan aktif menginisiasi dan membangun dialog dengan berbagai elemen masyarakat agar konflik sosial tidak terjadi. Kalaupun sudah mulai tampak gejalanya, bahkan sudah meletup, ulama perempuan juga dengan sigap tampil sebagai kekuatan perajut perdamaian.

Peran ulama perempuan Indonesia dalam menjaga dan merajut perdamaian ini  telah mengundang apresiasi dan pengakuan dunia internasional. Diantaranya dari PBB dan Afghanistan. Pada awal Desember 2017 yang lalu, Ibu Negara Afghanistan dan rombongan hadir ke Indonesia untuk belajar dari perempuan, pemerintah dan ulama perempuan Indonesia tentang bagaimana mereka mengenali masalah dan menjadi bagian dari solusi bagi terwujudnya perdamaian dan harmoni sosial. Kementerian Pemeberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menjadi host kehadiran Ibu Negara Afghanistan.

KPPPA menggelar berbagai acara yang dihadiri first lady Afghanistan mulai Simposium Nasional yang dari 500 undangannya, 100 orang adalah ulama perempuan jaringan KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia), dinner, hingga pertemuan khusus dengan para pemimpin organisasi dan ulama perempuan. Dari PBB, apresiasi dan dukungan terhadap peran ulama perempuan Indonesia juga ditunjukkan antara lain melalui support terhadap rencana-rencana kerja ulama perempuan Indonesia 5 tahun ke depan yang mencakup diseminasi pengetahuan, kaderisasi ulama perempuan dan advokasi.

Islam Indonesia yang di dalamnya ada peran penting ulama perempuan kini telah menjadi salah satu sorotan dunia dalam menjaga dan merajut perdamaian, mencegah dan menghentikan konflik sosial. Saatnya semua elemen bangsa ini makin membuka hati dan memperkuat kesadaran bahwa kehidupan yang aman, damai, terhindar dari konflik sosial adalah syarat mutlak bagi terwujudnya negara dan bangsa yang maju dan sejahtera dan syarat mutlak terjaminnya keberlangsungan dakwah Islam.

 

Teks : Badriyah Fayumi | Foto : Istimewa

Baca selengkapnya di Majalah NooR vol. XXVIII tahun 2018.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

March 2018
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

noormagazine © 2018 All Rights Reserved