Revolusi Perekonomian Indonesia

 

User comments

Pemanfaatan peralatan digital masa kini dan masa depan menawarkan kesempatan besar yang baru bagi siapa pun untuk berpartispasi dalam pasar tenaga kerja, pasar keuangan, dan kewiraswastaan.

 

Siapa pun mafhum bahwa Indonesia kini sedang dilingkupi revolusi digital. Tak hanya di Jakarta sen­­diri sebagai ibu kota negara, teknologi digital itu sudah menyentuh sendi perekono­mi­an yang ada. Namun, demi­ki­an juga dengan kota-kota besar lainnya. Maraknya teknologi ini di­tan­dai dengan men­­jamurnya perusahaan startups berbasis digital, entah di bidang perdagangan ba­rang dan jasa, bi­dang pembiayaan, maupun moda pembayaran. Revolusi digital yang pasti te­lah mengubah cara pandang seseorang dalam menjalani kehidupan kini yang sangat canggih ini. Se­buah teknologi yang membuat perubahan besar, tak terkecuali di Indonesia. Demikianlah sari­an pemikiran yang bisa ditarik dari terselenggaranya seminar ”Wanita, Pemuda & Teknologi Re­vo­­lusi Digital: Sekarang, atau Tidak Sama Sekali”, di Auditorium Badan Pengkajian dan Pene­rap­­an Teknologi (BPPT), Jakarta Pusat, Rabu (25/10).

Seminar yang menghadirkan Puput Melati (owner Dear bypuputmelati), Saiful Sang Jua­ra (CEO BUMSS), Faisal Basri (pengamat ekonomi senior UI), dan Emad Hamdan (direktur Sa­lee­ma Foundation) serta Niki Tsuraya (CoFounder & COO Goers) sebagai narasumber ini terselenggara atas ga­gas­an Araza Production. Sedikitnya 200 orang tercatat sebagai peserta seminar. Sekretaris Menteri Koperasi dan UKM Agus Muharram tak ketinggalan hadir memberi kata sambutan. Bertindak sebagai moderator Marsya Nada.

Diselenggarakannya se­mi­nar ini adalah untuk membuka wawasan akan ilmu sepu­tar wirausaha yang ditularkan oleh para pelaku andal bidang perekonomian. Dari seminar ini di­ha­­­rapkan bisa ”lahir” para pengusaha star up ba­ru. Terlebih, pada era digital ini transaksi barang dan jasa semakin gampang sehingga ter­bu­ka pe­­­luang bagi siapa pun untuk memulai usaha rintis­an. Belum lagi untuk membuka usaha atau bis­nis, pada era kekinian, tak perlu lagi dituntut untuk memiliki fisik bangunan atau mem­bu­ka ge­rai. Siapa pun bisa mengusahakannya cukup lewat so­si­al media, laman, maupun e-com­mer-ce. Dengan kata lain, perusahaan atau gerai konvensional (secara fisik) mulai tergantikan. ”Inilah yang tak bisa dinafikan dari besarnya gelombang digi­tal. Ketika sukses diaplikasikan, itu men­ja­di solusi mereka yang ingin berwirausaha dan akan berke­lanjutan dengan bantuan teknologi dan inovasi,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Bi­dang Tele­ma­tika, Penyiaran, dan Ristek Dr. Ing. Il­ham Habibie, M.B.A., saat ditemui NooR sesaat sebelum me­mulai seminar.

 

Tak perlu khawatir dengan revolusi digital

Sementara itu, dalam seminar yang berlangsung seharian, CEO BUMSS (Bina Usaha Mit­ra Sehat Sejahtera, sebuah usaha star up dengan transaksi mul­­tibisnis) Saiful Mekhmini me­nyebut bahwa teknologi digital dan mobile menawarkan potensi mengatasi berbagai kendala bis­nis secara fisik untuk tetap bisa menghasilkan peluang usaha. ”Karena itu, sikapi positif saja ber­ba­gai perkembangan teknologi digital yang masif ini,” tegas Saiful senyampang menambahkan bah­wa revolusi digital ke depannya memang membawa kemudahan. Sejalan dengan Saiful, da­lam semi­nar itu Ilham Habibie mengajak seluruh masyarakat supaya memanfaatkan kemajuan teknologi informasi ini di segala bidang kehidupan. Ilham juga mengingatkan siapa pun untuk tidak terlalu mengkhawatirkan hadirnya revolusi digital. ”Teknologi itu hadir untuk memberikan solusi dan berkelanjutan. Karena itu, edukasi lebih masif menyangkut persoalan ini penting dila­kukan,” tegas putra mantan Presiden RI B.J. Habibie ini yang mengimbau agar tidak ada kesen­ja­­ngan pengetahuan digi­tal supaya tidak semakin terlihat kesenjangan sosial di tanah air.

Dalam sesi pengaplikasiannya, Puput Melati mengemukakan manfaat revolusi digital saat ini. Mantan penyanyi cilik yang kini beralih menjadi pengusaha busana muslim dengan merek De­ar ini, mengaku memanfaatkan maraknya dunia digital sebagai sarana memasarkan dan me­ngem­bangkan bisnisnya. Menurutnya, sejak menjadi pengusaha busana muslim dirinya banyak dimudahkan oleh media dalam mengembangkan usaha busana muslimnya. ”Yang pasti lebih saya jadi lebih hemat waktu dan tenaga. Selain lebih murah juga cost-nya daripada saya buka gerai di mal atau di rumah sendiri,” papar Puput. ”Jadi, tak bisa dipungkiri, pesatnya teknologi digital saat ini, jelas, sangat memudahkan saya dan juga kaum ibu lainnya untuk berjualan lewat online. Ini banyak membantu ibu-ibu rumah tangga yang ingin punya penghasilan tanpa harus men­carinya di luar rumah.” Meski memudahkan, Puput tetap mewanti-wanti serepot apapun ber­bisnis online, kaum ibu tetap harus memprioritaskan keluarga. Di sisi lain, Niki Tsuraya menye­but bahwa semua industri sejatinya butuh peran-serta perempuan. Termasuk di industri teknologi yang ke­­banyakan pelakunya kaum laki-laki. Sebagai chief operating officer sebuah start up di bi­dang hiburan dan pariwisata, Niki – lewat Goers-nya – mengaku mampu berperan sejajar dengan kaum laki-laki. ”Perempuan sekarang jangan berada di bawah bayang-bayang laki-laki. Bukan za­­mannya lagi. Kehadiran perempuan di industri teknologi ini menjadi penyeimbang. Kartini mo­dern sekarang adalah mereka, perempuan, yang tidak gagap tekno­logi,” tegas Niki yang me­ng­ajak kaum perempuan untuk maju dan tidak ketinggalan melalui media digital.

.

Mengubah paradigma

Sementara dalam kata sambutan seminar, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram meng­ingat­kan ihwal kemajuan teknologi informasi yang sulit dibendung. Im­bas­nya, juga berlaku kepada pelaku koperasi dan UKM. ”Kalau mereka tidak mengikutinya akan tertinggal dan tergilas dalam peta persaingan usaha. Karena itu, Kemenkop dan UKM terus mendorong agar pelaku KUKM kita menerapkan sistem daring,” ungkap Agus. Ditambahkan Agus, kita saat ini sudah memasuki zaman triple T revolution. Artinya, telekomunikasi sudah me­makai sistem nirkabel, transportasi yang menunjang distribusi barang dan jasa sudah sejalan, begitu juga travel dan pariwisata sudah didominasi pelaku bisnis daring atau e-commerce. Agus pun mengapresiasi peran perempuan dan pemuda dalam mengembangkan wirausaha di tanah air. Banyak koperasi perempuan di Indonesia dengan kinerjanya bagus. Demikian pula UKM pe­rempuan. Sedangkan untuk pemudanya, tidak sedikit yang sudah mengubah paradigma berpikir­nya untuk bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Tidak lagi mencari pekerjaan.

Sejalan dengan Agus, dalam pengamatan pengamat ekonomi senior UI Faisal Basri – ter­ka­it kemajuan tekno­logi itu – masyarakat harus produktif pada era teknologi ke­­kinian ini. Ja­ngan­lah teknologi ini malah membawa kesengsaraan. ”Karena itu, penting bagi pe­merintah me­lakukan perbaikan infrastruktur pendukung digitalisasi industri. Jadi, selain mem­ba­­ngun infra­struk­tur fisik, digitalisasi industri dikembangkan. Urgensinya adalah agar Indonesia tidak terting­gal dalam era revolusi digital ini,” jelas Faisal.

Yang tak kalah menarik juga ulasan Emad Hamdan. Direktur Saleema Foundation ini melihat kemajuan teknologi dari sisi agama. Menurut Emad, Islam pun sejatinya membahas se­ca­ra mendalam terkait kemajuan teknologi ini. Sebagai umat muslim, kita diha­rap­kan bisa meng­gunakan teknologi dengan tetap berpegang kepada koridor Alquran dan Sunah Rasul. Dalam pandangan Emad, Islam tegas mengatakan bahwa teknologi dan media digital menjadi bagian yang perlu menjadi perhatian umat. Apalagi dapat membawa manfaat dalam berbagai sisi peng­amal­an, demikian juga aktualisasi agama pun lebih baik lagi. Disadari Emad, bahwa berbagai per­­soalan yang dihadapi dalam kehidupan keagamaan selama ini didahului oleh berbagai ke­sa­lah­pahaman dan tidak jarang terjadi karena adanya kesenjangan yang terjadi dalam berbagai hal terkait teknologi, media digital, sehingga komunikasi yang terbangun tidak dapat mencapai sa­saran yang dituju. ”Karena itu, era global dalam digital adalah sebagian dari sarana yang cukup efek­tif untuk berbagi peran memaknai dan menerjemahkan empati fitrah manusia sebagai insan da­lam bentuk mengabdi kepada Allah Swt. Dengan demikian, pada zaman kekinian yang semua­nya serbateknologi ini, sebagai khalifah kita harus bisa melihat sampai sejauh mana digital itu sen­diri bermanfaat dalam kehidupan,” ujar Emad. Tidak lupa juga Emad memberi tips men­capai kesuksesan di dunia digital sebagai seorang khalifah. ”Untuk menggapai sukses pada era digital, umat muslim khususnya harus memiliki ilmu pengetahuan tentang dunia (sains) dan pe­ngetahuan tentang akhirat yaitu Alquran dan Sunah itu tadi. Selain itu, segala perilakunya ber­ba­sis ke­pada pe­ngetahuan dan tawakal yaitu percaya kepada rencana Allah Swt. dan hanya ber­gan­tung kepa­da-Nya,” pungkasnya

Teks : Yudiana | Foto : Istimewa

Baca selengkapnya di Majalah NooR vol. XXVII tahun 2017.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

March 2018
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

noormagazine © 2018 All Rights Reserved