POLIGAMI SEBAGAI KOMODITAS

gaya hidup-friendship-2-1240066Menjadikan poligami sebagai komoditas untuk mendapatkan keuntungan tidak hanya melecehkan perempuan tapi juga penistaan terhadap agama.

Pada Sepetember 2017 yang lalu, masyarakat Indonesia dibuat marah oleh deklarasi Partai Ponsel (Partai Pelangsingan Obesitas Negara, Startup Ekonomi Luar Biasa) yang program unggulannya adalah nikah sirri dan lelang perawan. Pendiri sekaligus ketua umumnya, Aris Wahyudi, kemudian ditangkap polisi, karena apa yang dilakukan menyalahi Undang-Undang  Pornografi dan UU Penghapusan Tindak Pidanan Perdagangan Orang (PTPPO). Dua bulan kemudian, November 2017, kembali publik dibuat resah oleh beredarnya tawaran dauroh poligami melalui medsos. Kaum Adam diajak berani berpoligami dan diberi kiat bagaimana membuat isteri mau dipoligami. Mereka harus membayar mahal untuk dauroh tersebut. Sementara kaum Hawa dipersilahkan datang gratis untuk siap dinikahi. Meski acara itu kemudian diprotes banyak kalangan, kabarnya acara tersebut tetap dilaksanakan secara diam-diam. Banyak pihak merasa geram. Ini pelecehan perempuan, perdagangan orang sekaligus penistaan agama.

Degradasi dan Pembodohan

Dua kejadian di atas adalah contoh nyata betapa kini poligami tanpa tedeng aling-aling telah dijadikan komoditas. Dengan berdalih agama,  syahwat seksual laki-laki difasilitasi sedemikian rupa tanpa peduli ada isteri dan anak  yang menjadi korban, keluarga yang terancam berantakan, citra Islam yang ternoda, dan nafsu seks yang dijadikan berhala. Menjadikan poligami sebagai komoditas telah mencederai nilai-nilai agama, moral dan kemanusiaan.

Manjadikan poligami sebagai komoditas merupakan produk kapitalisme yang berkongsi dengan partiarki. Kapitalisme menjadikan semua hal dihargai dengan uang dan dilakukan demi uang, sekalipun menabrak nilai-nilai luhur agama dan kemanusiaan. Patriarki menjadikan perempuan sebagai obyek dan subordinat laki-laki, termasuk dalam perkawinan dan seks. Islam hanya dipakai sebagai bungkus atau stempel.

Hanya karena Islam memiliki ajaran tentang poligami dan Rasulullah pernah berpoligami, lalu setiap poligami -termasuk yang tidak memedulikan keadilan, kemanusiaan dan keadaban- dianggap sunnah. Isteri yang mau dipoligami pun diiming-imingi surga. Titik. Tak dipedulikan apakah penyebab, tujuan dan cara berpoligami itu sendiri sesuai aturan atau tidak. Sungguh ini merupakan degradasi dalam beragama dan pembodohan nalar umat beragama.

Bukan yang Diidealkan

Jika kita melihat ajaran, konteks historis turunnya ajaran tentang poligami dan latarbelakang serta praktik poligami Nabi, niscaya akan kita dapati kesimpulan bahwa poligami bukanlah hal yang diidealkan dalam Islam. Alquran memang menyebutnya, tetapi tidak mengidealkannya.

Dalam surat an-Nisa’ ayat 3, pembolehan poligami merupakan respon Islam terhadap kondisi sosial yang tidak ideal saat itu, dimana banyak janda dan anak yatim yang rentan dizalimi karena suami dan ayah mereka meninggal di medan perang. Maka poligami hadir sebagai cara untuk menyelamatkan mereka dari kezaliman orang-orang yang menjadikan mereka sasaran eksploitasi, baik material maupun seksual. Itupun dengan batas maksimal empat, tidak seperti tradisi yang berlaku di masyarakat jahiliyah dan masyarakat berbagai belahan dunia saat itu, dimana laki-laki bisa mengawini perempuan tanpa batas.

Sudah berbatas maksimal empat, di ujung ayat tersebut,  Alquran juga menyeru untuk bermonogami saja, karena monogami lebih dekat kepada keadilan. Dalam surat yang sama ayat 129, pelaku poligami bahkan digambarkan  tidak akan mampu berbuat adil walau sangat berhasrat untuk adil. Padahal poligami hanya boleh jika mampu berlaku adil. Kalau demikian halnya, dapatlah disimpulkan bahwa pada prinsipnya perkawinan dalam Islam adalah monogami. Poligami hanyalah solusi darurat dengan syarat ketat yang oleh Alquran sendiri dikatakan tidak akan mampu dilakukan pelakunya.

Nabi tidak Menyerukan

Tentang poligami Nabi, umat juga sering disuguhi kesimpulan yang diambil dari potongan sejarah hidup Nabi yang tidak utuh. Nabi Muhammad saw. selama 27 tahun menjalani perkawinan monogami bersama Khadijah ra. Beliau adalah suami yang setia. Sampai ketika Khadijah sudah wafat pun, beliau menduda sekitar dua tahun. Fase kehidupan Nabi bermonogami ini seringkali terlupakan. Padahal masa Nabi bermonogami tiga kali lebih lama dibandingkan masa beliau berpoligami. Nabi berpoligami juga karena misi risalah menuntunnya untuk melakukan hal itu demi perlindungan terhadap perempuan dan demi dakwah Islam. Perempuan yang dinikahi Nabi, kecuali Aisyah ra. -yang diperistri karena perintah wahyu-,  semuanya adalah janda dan tidak muda. Tidak semua cantik. Perkawinan Nabi dengan para ummahatul mukminin di Madinah lebih disebabkan pertimbangan kemanusiaan, perlindungan perempuan dan anak, serta penguatan dakwah Islam.

Oleh karena itu Nabi Muhammad saw. tidak pernah menyerukan umatnya berpoligami. Bahkan menantu beliau sendiri, Ali ra. tidak diizinkan memoligami putri Nabi, Fatimah ra. Nabi tahu dan paham, poligami itu menyakitkan perempuan dan bisa membuatnya kufur dalam keimanan, lantaran isteri tak lagi bisa sepenuh hati menjadi pendamping suaminya karena  luka, duka dan hina yang dirasakannya akibat dipoligami. Nabi juga paham bagaimana kecemburuan isteri yang dipoligami. Oleh karena itu beliau tidak pernah marah apalagi melakukan kekerasan saat isteri beliau dilanda cemburu.

Nabi juga selalu jujur dan terbuka kepada para isteri dan umatnya. Semua yang dialaminya, bahkan teguran Allah pun beliau sampaikan kepada umatnya. Sikap yang jujur dan terbuka ini tampaknya tidak dimiliki para lelaki masa kini yang berpoligami, yang hampir semuanya prosesnya curi-curi, dan jika sudah terjadi mengingkari atau bohong sana-sini. Tidak heran jika perceraian saat ini banyak disebabkan oleh poligami.

Tanpa Motif Duniawi

Poligami Rasulullah saw. sama sekali jauh dari motif materi duniawi. Berbeda dengan saat masih bermonogami dengan Khadijah, dimana Nabi dan isteri adalah saudagar sukses Makkah, pada saat berpoligami, Nabi yang pemimpin negara Madinah justru memilih hidup sederhana. Saking sederhananya, sampai para isteri merasa berat menjalaninya dan mengajukan kenaikan nafkah. Nabi memaklumi hal itu dan menyikapinya dengan bijaksana. Beliau diam, hingga akhirnya turun wahyu dalam surat al-Ahzab ayat 28 dan 29 yang memberikan pilihan kepada para ummahatl mukminin apakah lebih memilih dunia yang berarti berpisah dengan Nabi secara baik-baik dengan pesangon yang besar, atau memilih bersama Nabi dengan konsekuensi hidup sederhana namun mendapatkan balasan pahala dari Allah yang besar jika taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Para ummahatul mukminin akhirnya dengan sadar  memilih hidup bersama Nabi dalam kesederhanaan yang penuh kemuliaan.

Dengan melihat ajaran, sejarah dan konteks sosial secara utuh, serta memperhatikan rasa keadilan dan kemanusiaan khususnya perempuan dan anak, semestinya umat Islam tidak mengkampanyekan poligami, apalagi menjadikannya komoditas.  Menjadikan poligami sebagai komoditas adalah penistaan agama, pelecehan terhadap perempuan, serta pencederaan terhadap moralitas dan kemanusiaan.

Teks : Badriyah Fayumi | Foto : Istimewa

Baca selengkapnya di Majalah NooR vol. XXVIII tahun 2018.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

March 2018
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

noormagazine © 2018 All Rights Reserved