Myhalalkitchen “Pentingnya Edukasi Makanan Halal”

komunitas-Buku-‘Halal-Culinary-Series’Komunitas ini hadir sebagai solusi untuk para pecinta kuliner yang ingin menjaga mutu kehalalan makanannya.

Berawal dari hobby surfing di internet, Meili Amalia, S.Sos secara tidak sengaja mendapatkan situs-situs yang mengupas tentang kehalalan aneka bahan pangan. Salah satunya melalui tulisan-tulisan Dr. Ir. Anton Apriyantono, M.S., mantan Menteri Pertanian. Kala itu, Meili, biasa disapa, sangat tercengang dan tercerahkan setelah membaca titik-titik kritis bahan pangan, terutama baku kue yang sering kali masih impor dan dijual secara repack atau curah.

Merasa perlu untuk melakukan sesuatu dan berbekal kenekatan, karena tidak memiliki back ground ilmu teknologi pangan, akhirnya pada 25 Februari 2012, Meili membuat sebuah group diskusi di Facebook yang diberi nama Myhalalkitchen (MHK). Meskipun dengan keterbatasan waktu, Meili tetap berusaha berdakwah terkait kehalalan bahan-bahan yang digunakan dalam makanan. Beruntungnya Ustaz Anton bersedia diajak sebagai narasumber untuk mengedukasi dan sharing setiap ada pertanyaan dari teman-teman yang lain.

“Saya sempat terperangah dan kaget ternyata selama ini banyak bahan kue yang syubat dan haram. Belum lagi kuas yang mengandung bulu babi. Dari sinilah kesadaran akan halal terbangkitkan. Jika hanya diam berarti membiarkan orang lain berbuat dosa dan saya pun ikut dosa juga,” kata Meili.

Menurut ibu rumah tangga yang juga senang dan bergabung dalam komunitas kuliner ini, dirinya sengaja memilih Facebook dan dakwah on line sebagai media. Hal ini karena jejaring sosial macam Facebook dapat menjadi media belajar, sharing dan diskusi yang efektif. Selain itu, dapat diakses oleh penggunanya kapan saja, dimana saja, di seluruh penjuru Indonesia, bahkan di luar negeri. “

Masyarakat kurang peka

Meili juga menjelaskan jika sejak awal diluncurkan, MHK bertujuan mengedukasi masyarakat yang terlibat dalam pembuatan makanan. Target edukasinya pun ibu rumah tangga yang memang sehari-hari bertanggung jawab menyiapkan makanan untuk keluarga. Kemudian juga, usaha kuliner UKM dan chef yang bertanggung jawab menyiapkan makanan yang sehat dan halal untuk konsumennya. Karena komunitas swadaya masyarakat maka setiap kegiatannya menggunakan donasi dana pribadi anggota.

“Selama ini kami fokus untuk edukasi soal makanan halal. Namun  sepertinya itu tak cukup. Banyak hal lain yang harus diperjuangkan. Walau saat ini kita sudah memiliki UU Nomor 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH), nyatanya tidak serta merta mudah diimplementasikan. Masih butuh perjuangan dalam memberikan pemahaman yang benar pada masyarakat dan mengawasi jalannya implementasi atas UU tersebut.”

Terkait dengan kurangnya kepekaan masyarakat terhadap bahan makanan halal atau tidak, Meili menuturkan seharusnya masyarakat jangan terlena akan status Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia karena kenyataannya tidak demikian. Ditambah lagi masih ada hal-hal yang tak disepakati diantara lembaga pemerintah sendiri. Otomatis bahan makanan non halal masih bisa bebas beredar tanpa identifikasi dan aturan pemisahan yang jelas. Perempuan lulusan Universitas Padjajaran Bandung ini juga menegaskan jika sertifikasi halal sangatlah penting terutama untuk pengusaha kuliner. Namun, entah karena ketidaktahuan akan cara memperoleh sertifikat atau apa yang seringkali membuat minimnya pengusaha memiliki kesadaran untuk mendaftarkan diri. Padahal jaminan halal ini sangat penting terutama bagi konsumen. Bahkan, pemerintah juga mendukung dan memfasilitasi. “Bagi yang ingin tahu lebih mendalam atau berdiskusi mengenai bahan makanan yang ada dipasaran halal atau tidak, bisa lihat di www.facebook.com/groups/myhalalktichen, www.facebookcom/myhalalkitchen.superstore atau di www.cerdashalal.com,” jelas Meili.

Menurut muslimah kelahiran Jakara, 28 Januari 1972 ini memang ada beberapa lembaga yang bertugas untuk memperhatikan masalah di atas. Misalnya LPPOM MUI yang bertugas kuat untuk meneliti, mengkaji, menganalisa, dan memutuskan apakah produk-produk seperti pangan dan turunannya aman dikonsumsi baik dari sisi kesehatan maupun dari agama Islam. Atau BPOM yang bertugas mengawasi peredaran makanan serta memberi sertifikasi halal. Akan tetapi ini saja tidak cukup. “Sebenarnya ini kewajiban kita selaku umat muslim untuk pandai memilih dan mengolah makanan ataupun minuman yang halal. Jadi, kita tidak perlu menunggu pemerintah lagi. Biar bagaimanapun kita harus bisa melindungi diri sendiri maupun keluarga. Toh, kita juga yang nanti dapat manfaatnya,” ujar Meili.

Hebatnya, MHK berkembang dengan pesat. Terdapat lebih dari 25.000 member yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia maupun manca negara dengan latar belakang pendidikan dan sosial ekonomi yang beragam. Diskusi intens sering terjadi di group dengan aneka topik dan issue-issue terkini yang tengah berkembang di Masyarakat.  Berbagai dukungan dan pengakuan dari lembaga  pemerintahan pun terus berjalan, baik dari Kementrian Agama RI ataupun dari LPPOM MUI. Pada 2014 para pengurus komunitas telah mendapatkan pembekalan dan sertifikasi untuk memberikan edukasi dan panduan melalui Traning of Trainer Kader Dakwah Halal yang dilaksanakan oleh LPPOM MUI. Sejak itu, rekam jejak tebaran ilmu dari MHK pun semakin meluas. Baik melalui kajian-kajian tatap muka group-group Whats Ap, penerbitan buku-buku Myhalalkitchen Halal Culinary Series, ataupun dari beberapa program berupa road show ke beberapa SMK Tata Boga.

“Dengan begitu saya dan anggota komunitas lainnya punya ilmu lebih yang bisa dibagikan ke ta’aklim dan sekolah-sekolah. Bahkan baru-baru ini, dalam rangka mengedukasi masyarakat tentang makanan halal, LPPOM MUI kembali bekerja sama dengan MHK menggelar acara pelatihan Kelas Usaha Bakso Halal-Ekonomis yang berlangsung pada pertengahan April 2017 lalu,” ungkap Meili.

Kelas pelatihan memasak bakso halal ini berkaitan dengan kekhawatiran banyak pihak soal kehalalan bakso yang dijual di pinggir jalan. Meski menjadi favorit, kulinert tersebut tak jarang menggunakkan bahan-bahan non halal untuk produksinya. Berbagai penghargaan pun diterima MHK. Salah satunya ketika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) menggelar acara penganugrahan Halal Award 2016 di Jakarta Internasional Expo. Acara tersebut digelar sebagai bentuk sosialisasi produk halal kepada masyarakat, pengusaha dan industri.

Sebagai penutup, Melly mengungkapkan jika MHK sangat berharap pemenuhan kebutuhan konsumen muslim akan jaminan produk halal di Indonesia dapat betul-betul terwujud. Jangan sampai label negara berpenduduk muslim terbesar di dunia hanya tinggal label semata. “Saat ini kami juga mulai menggeser positioning perjuangan halal. Yang sebelumnya hanya di seputar dapur semata, kini lingkupnya mencakup seluruh produk yang digunakan oleh konsumen muslim. Pelan-pelan kami ikut bertransformasi menjadi Komunitas Cerdas Halal. Bismillah, sepertinya perjuangan belum berakhir,” pungkas Meili.

Teks : Shiera | Foto : Dok. Myhalalkitchen & Istimewa

Baca selengkapnya di Majalah NooR vol. XXVII tahun 2017

 

 

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

March 2018
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

noormagazine © 2018 All Rights Reserved