Mengenang Marwa Ali El Sherbini, Sang Syahidah Berjilbab

khazanah marwah-IMG_20180123_113056 copy

Muslimah asal Mesir ini meninggal dunia di ruang pengadilan kota Dresden, Jerman. Dia  ditusuk tetangganya yang menyebutnya teroris karena mengenakan jilbab. Tanggal wafatnya kemudian dijadikan momentum sebagai Hari Hijab Internasional.

 

Peristiwa berdarah yang terjadi pada Rabu, 1 Juli 2009 di gedung pengadilan kota Dresden, Jerman,  mungkin akan menjadi catatan paling kelam dalam sejarah Jerman yang berkaitan dengan Islamophobia. Pada hari itu, telah syahid seorang muslimah yang meninggal dunia demi mempertahankan jilbabnya. Dia adalah Marwa Ali El Sherbini, seorang ahli farmasi yang dibunuh secara keji  karena jilbab yang dikenakannya.

Kisah tragis itu berawal dari gugatan Marwa pada Alex, seorang pemuda keturunan Rusia berusia 28 tahun yang  merupakan tetangganya . Marwa memperkarakan Alex yang  telah menghina dan menyebutnya teroris  karena Marwa mengenakan jilbab. Alex bukan hanya  mencaci maki Marwa tapi juga sering menarik-narik jilbab yang dikenakan Marwa. Perbuatan yang melecehkan itu bahkan dilakukan Alex di tempat umum dan membuat Marwa merasa harus melakukan tindakan untuk menghentikan Alex. Pengadilan yang menyidangkan kasus tersebut akhirnya memenangkan gugatan Marwa dan menghukum Alex untuk membayar denda sebesar 780 Euro.

Alex yang tidak terima dengan keputusan hakim tersebut malah melampiaskannya dengan menyerang Marwa secara keji. Ironisnya, suami Marwa, Elwi Ali Okaz yang bermaksud melindungi Marwa dari tusukan bertubi-tubi yang dilakukan Alex juga mengalami luka serius karena ditembak petugas keamanan pengadilan.  Petugas tersebut mengira Elwi yang telah  menyerang Marwa. Muslimah yang sedang hamil tiga bulan itu meninggal seketika dengan belasan tusukan di tubuhnya. Dia meninggalkan seorang putra bernama Mustafa yang waktu itu masih berumur 3, 5 tahun.

“Martir Jilbab”

Marwa Ali El Sherbini adalah seorang ahli farmasi dan pemain handball yang andal. Marwa pindah ke Jerman pada 2005 untuk mengikuti suaminya yang mendapat beasiswa kandidat Doktor dari Lembaga Max Planck Institute for Molecular Cell Biology and Genetics. Awalnya mereka tinggal di kota Bremen lalu kemudian pindah ke Dresden. Namun sayangnya, kota Dresden bukanlah kota yang ramah untuk muslimah berhijab seperti dirinya. Mereka mendapat cobaan dari tetangga mereka yang sangat membenci Islam. Pemuda itu setiap saat memaki Marwa dengan kata-kata kasar dan menyebutnya teroris hanya karena Marwa mengenakan jilbab.

Menurut adik laki-laki Marwa, Tarek El Sherbini, Marwa syahid karena menjalankan ajaran Islam untuk menutup auratnya . Hal yang membuat Tarek merasa terguncang, karena kakak perempuan satu-satunya itu sedang hamil muda dan memiliki anak yang masih sangat membutuhkan kasih sayangnya.

Kematian Marwa dengan cara yang sangat mengenaskan itu tak pelak memicu kemarahan komunitas Muslim yang ada di Jerman dan masyarakat Mesir. Ribuan orang yang mengantarkan jenazah Marwa ke tempat peristirahatan terakhirnya di kota Alexandria, Mesir,  menyebut Marwa sebagai “Martir Jilbab”.

Syahidnya Marwa memang dipicu dengan cara berpakaian Marwa yang sangat tidak disukai oleh sebagian masyarakat Jerman, termasuk Alex, tetangganya. Kepada ibunya. Laila Shams, Marwa pernah bercerita tentang perlakuan buruk dan pelecehan yang dialami Marwa karena jilbabnya. Marwa bahkan pernah diminta untuk melepas jilbabnya kalau ingin mendapatkan pekerjaan, tapi Marwa dengan tegas menolak tawaran tersebut.

Hari Hijab Internasional

Marwa Ali El Sherbini lahir pada 7 Oktober  di kota Alexandria, Mesir. Dia adalah puteri dari pasangan Ali El Sherbini dan Laila Shams. Ayahnya seorang ahli kimia yang mendidik Marwa dengan nilai-nilai Islam. Marwa menyelesaikan pendidikannya di El Nasr Girls’ College pada 1995 dan dikenal sebagai aktivis si kampusnya.

Selain cerdas, Marwa juga merupakan anggota tim nasional olah raga bola tangan Mesir dari 1992 hingga 1999. Marwa kemudian meraih gelar sarjananya di bidang farmasi dari Faculty of Pharmacy of Alexandria University.

Selama mengikuti suaminya menyelesaikan pendidikan doctoral di Jerman, Marwa bekerja di University Hospital Dresden dan  apotek setempat sesuai persyaratan akreditasi untuk berlatih farmasi di Jerman. Bersama teman-temannya sesama anggota komunitas muslim  yang ada di Dresden, Marwa mendirikan Eingetragener Verein, sebuah lembaga yang bertujuan sebagai pusat kebudayaan dan pendidikan Islam di Dresden.

Lembaga yang didirikan Marwa dan teman-temannya itu juga dimaksud untuk memberi pemahaman kepada masyarakat Jerman tentang wajah Islam yang sebenarnya. Sayang, sebelum hal itu terlaksana, Marwa telah menjadi korban dari stigma buruk yang terlanjur dipahami oleh sebagian warga di kota tempatnya tinggal. Pemicu lain dari tragedi yang menimpa Marwa adalah pemberitaan dan informasi keliru tentang Islam yang dilakukan oleh media Barat. Hal ini pula yang memengaruhi cara pandang masyarakat di sana sehingga banyak dari mereka yang menjadi Islamophobia, termasuk pembunuh Marwa.

Kisah wafatnya Marwa yang dijuluki sebagai “The Veil Martyr” atau Syahidah Berjilbab akan terus dikenang sepanjang masa. Bagi muslimah dunia, Marwa Ali El-Sherbini adalah muslimah yang syahid demi mempertahankan kehormatan dan ketakwaan pada ajaran Islam. Untuk mengenangnya , muslimah dunia kemudian menetapkan tanggal 1 Juli sebagai Hari Hijab Internasional.

Teks : Ade | Foto : Istimewa

Baca selengkapnya di Majalah NooR vol. XXVIII tahun 2018

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

March 2018
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

noormagazine © 2018 All Rights Reserved