Kesunyian Yang (Tak Perlu) Melumpuhkan

Pencegahan dan penanganan ketulian dan gangguan pendengaran adalah tanggung jawab pemerintah dan juga kita semua. Hal itulah yang mendasari diselenggarakannya Workshop dan Seminar “Rehabilitasi Pendengaran dengan Pendekatan Auditory-Verbal Therapy (AVT)” di Aula Rumah Sakit Khusus THT – Bedah KL Proklamasi BSD, Tangerang Selatan, tanggal 15-17 Maret 2017 lalu. Workshop ini terselenggara atas kerjasama Yayasan Rumah Siput Indonesia (YRSI) – Pusat Rehabilitasi Pendengaran dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok dan Bedah Kepala Leher Indonesia (PERHATI-KL) dan pihak rumah sakit tempat acara dilangsungkan. Seminar dan workshop ini bertujuan untuk mensosialisasikan langkah-langkah pencegahan dan penanganan ketulian dan gangguan pendengaran pada masyarakat, khususnya orangtua, kalangan profesional dan mahasiswa. Seminar dan workshop ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Pendengaran Sedunia yang jatuh pada tanggal 3 Maret 2017.

20170330_035805

                      Eka K. Hikmat, MSpecEd (Ketua Panitia Acara) Memberikan kata sambutannya

Menurut data World Health Organization (WHO) Regional Asia Tenggara, prevalensi ketulian dan gangguan pendengaran yang dianggap membatasi kehidupan seseorang di Indonesia pada tahun 2002 sebesar 4,2%. Jika prevalensi tersebut diterapkan pada jumlah penduduk Indonesia tahun 2015 berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), yakni 255.461.700 jiwa, maka berarti ada sekitar 10.729.391 penduduk di Indonesia yang terbatasi kehidupannya karena ketulian dan gangguan pendengaran.

Data WHO juga menjabarkan bahwa 50% dari semua kasus ketulian dan gangguan pendengaran sebenarnya dapat dicegah melalui langkah-langkah kesehatan masyarakat. Salah satu bentuk pencegahan yang dilakukan di negara-negara maju seperti Amerika di antaranya adalah dengan memberikan vaksinasi rubela secara gratis kepada warganya. WHO merilis data bahwa rubela bersama jenis infeksi lainnya bertanggung jawab atas 31% dari keseluruhan kasus ketulian dan gangguan pendengaran di dunia.  Amerika memulai vaksinasi rubela pada tahun 1969 dan pada April 2015, WHO Regional Amerika menjadi yang pertama di dunia yang dideklarasikan terbebas dari penularan endemik rubela.

20170330_035844

Enam pembicara mewakili enam Auditory Verbal Therapy (AVT)

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, dr. H. Mohamad Subuh, dalam konferensi pers yang digelar Kemenkes Rabu, 4 Januari 2017, menyatakan bahwa Kemenkes menargetkan vaksinasi Measles Rubella (MR) yang menggantikan vaksin Campak dapat mencakup seluruh Jawa pada tahun 2017 dan mencakup seluruh Indonesia pada tahun 2018. Vaksinasi MR bisa didapatkan secara gratis bagi anak-anak di Posyandu. Pelaksanaan program vaksinasi ini harus kita dukung dan monitor bersama, namun sebenarnya bukan hanya anak-anak saja yang membutuhkan vaksinasi ini, tapi juga perempuan usia reproduktif yang berpotensi untuk hamil.

Menurut WHO, perempuan hamil yang terinfeksi virus rubela di awal kehamilannya memiliki 90% peluang untuk menularkan virusnya pada janin yang tengah dikandungnya. Dan setiap tahunnya, lebih dari 100.000 bayi terlahir di dunia dengan Congenital Rubella Syndrome (CRS) di mana salah satu gejalanya adalah ketulian. Bagi kasus ketulian dan gangguan pendengaran yang sudah terlanjur terjadi atau memang tidak dapat dicegah, negara-negara maju telah melakukan langkah-langkah kuratif untuk meminimalisir dampaknya. Pemerintah Australia misalnya menerapkan Universal Newborn Hearing Screening (UNHS) atau skrining pendengaran untuk seluruh bayi yang baru lahir secara gratis untuk mendeteksi ada atau tidaknya masalah pendengaran sejak dini.

20170330_035948

Donna Sperandio dan Rebecca Claridge, instruktur acara memberikan hadiah untuk Haura, pengguna implan rumah siput

Jika seorang bayi teridentifikasi memiliki masalah pendengaran, maka bayi tersebut akan mendapatkan fasilitas pemeriksaan pendengaran lanjutan lengkap yang juga gratis. Jika sang bayi diketahui membutuhkan teknologi seperti alat bantu dengar atau implan rumah siput untuk meningkatkan kemampuannya mendengar, pemerintah juga menyediakan alat berikut pemasangannya secara cuma-cuma. Keluarga sang bayi hanya dikenai biaya perawatan alat dan baterai yang cukup rendah yakni 45 dolar Australia atau 453.349 rupiah per tahun. Selain diberi akses terhadap teknologi untuk membantu kemampuan mendengar, si bayi juga berhak mendapatkan pelayanan intervensi dini habilitasi pendengaran seperti program Auditory-Verbal Therapy (AVT) untuk membantunya belajar mendengar dan berbicara.

20170330_035914

Salah seorang peserta dari Vietnam mengajukan pertanyaan pada instruktur

Saat ini, banyak instansi di Indonesia yang mulai menunjukkan dukungan pada  anak tuli atau dengan gangguan pendengaran. Mereka membantu membayar, sebagian atau seluruh biaya, yang dibutuhkan. Biaya operasi implan rumah siput dan biaya habilitasi pendengaran di beberapa rumah sakit juga telah dapat ditagihkan pada asuransi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Naskah dan Foto : Dokumentasi Yayasan Rumah Siput Indonesia

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

March 2017
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

noormagazine © 2017 All Rights Reserved