Muhammad Ali : “ALLAH Pengawal Saya’

Teks: Yudiana, berbagai sumber I Foto: Istimewa

Petinju Muhammad Ali meninggal dunia di rumah sakit di usianya yang ke-74 tahun. The Greatest pun akhirnya ”takluk” oleh penyakit parkinson yang sudah dideritanya selama 32 tahun. Namun, namanya tetap dikenang sebagai legenda tinju sepanjang masa.

Siapa yang tak kenal Muhammad Ali. Selama hidupnya ia dikenal sebagai petinju terbaik sepanjang masa. Gerakan kakinya lincah berpindah, ibarat kupu-kupu yang terbang dari putik sari bunga satu ke putik sari bunga yang lain. Namun, ia juga bak lebah dengan sengatnya yang menusuk begitu pukulan mautnya menghunjam lawan. Petinju yang terlahir di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, dengan nama Cassius Marcellus Clay, Jr. ini mulai
berlatih tinju pada usia 12 tahun. Namanya mengikuti nama ayahnya, Cassius Marcellus Clay, Sr. Clay untuk kali pertama
meraih juara Heavyweight World Championship saat usianya 22 tahun pada 1964. Ia sukses mengalahkan Sonny Liston, sang juara dunia kelas berat saat itu, di akhir ronde keenam. Dalam pertarungan itu para wartawan tinju menilainya
pasti akan kesulitan menaklukkan Liston. Maklum, Liston ketika itu menjadi petinju yang tidak mungkin dikalahkan siapa pun. Tak heran kalau lawan Ali itu yang lebih banyak diunggulkan untuk menang.

Selama kiprahnya bertinju, Clay berhasil mempersembahkan
emas Olimpiade Roma 1960 untuk Amerika Serikat yang tak lain adalah negaranya sendiri. Namun, kemenangan atas Liston itulah, yang tak dipungkiri Clay sebagai momentum dirinya menjadi seorang mualaf. Bagaimana tidak. Setelah menganvaskan Liston, di antara sorak-sorai para pendukung dan sorotan cahaya kamera,   Ali  berikrar syahadat di hadapan kamera televis Islam dan mata jutaan penonton yang menyaksikan pertandingan langsung itu. Terlebih setelah ia aktif dan mengenal salah satu tokoh muslim Nation of Islam (NOI), Elijah Muhammad.

Dari Elijah Muhammad pula, nama Clay diubah menjadi Muhammad Ali pada 1975. Setelah menjadi mualaf Ali rajin menyuarakan kebanggaan ras untuk Afrika Amerika
serta melakukan perlawanan atas dominasi ras putih melalui
Gerakan Hak-Hak Sipil Afrika-Amerika. Karena tak ingin ada dominasi antar-ras pula Ali menolak wajib militer yang ditetapkan pemerintah AS dalam perang Vietnam. Alhasil, komisi tinju
di negaranya menskors Ali sejak 1967 s.d. 1970 dengan melarangnya bertanding. ”Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietkong, dan tidak ada satu pun orang Vietkong yang memanggil saya dengan sebutan Nigger!” ujar Ali ketika itu beralasan.

Setelah masuk Islam Ali kemudian membuang julukan The Greatest karena tidak ingin membanggakan dirinya sendiri. Ali lebih memilih menjadi sosok sederhana dengan jiwa islaminya. Mengapa
Ali jadi petinju? Jalan hidup menjadi seorang petinju dipilihnya karena sejak kecil ia sudah merasakan adanya perbedaan
perlakuan mengingat dirinya berkulit cokelat. ”Hal inilah mungkin
yang mendorongku untuk belajar tinju agar bisa membalas perlakuan jahat teman-teman yang berkulit putih,” ujar Ali suatu hari. Alhasil, benar saja. Karena mempunyai bakat serta otot kuat, jalan untuk menjadi seorang petinju akhirnya bisa diraih dengan kerja kerasnya.

Nama-nama islami untuk anaknya
Dengan menjadi seorang muslim, Ali meninggalkan seluruh masa lalunya yang tidak islami. Ia lalu fokus mempelajari agama Islam dengan sebenar-benarnya. Surat Al-Fatihah menjadi surat

Ingin tahu kisah inspiratif Muhammad Ali semasa hidupnya? Baca di Majalah Noor Vol. 16 ya 

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

August 2016
M T W T F S S
« Jun   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

noormagazine © 2017 All Rights Reserved