Lena Maryana Mukti, Suara Perempuan untuk Perempuan

Teks: Shiera I Foto: Ramsy, dok. pribadi

Dikenal gigih menyuarakan hak kaum perempuan membuat istri dr. Abraham Andi Padlan Patarai, M.Kes. ini selalu perhatian kepada setiap isu tentang perempuan, terutama yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan.

Dia memulai karier politiknya sejak masih mahasiswa lewat berbagai kegiatan organisasi mahasiswa, pemuda, dan kemasyarakatan. Kiprahnya itu kemudian mengantarkan perempuan kelahiran Jakarta 22 Desember 1962 ini terpilih sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1987-1989. Di kampus yang sama, dia juga menjadi salah satu pendiri koperasi mahasiswa. ”Ketika menjadi ketua umum senat tantangan yang saya temui bukan soal merumuskan program atau kegiatan yang ada; melainkan lebih kepada bagaimana memimpin dan laki-laki yang saat itu merupakan mayoritas,” buka Kak Lena, sapaan akrabnya, ketika disambangi NooR di gedung DPR.

Terus berjuang
Tak hanya sampai di situ. Anak pasangan Betawi asli H. Muhammad Mukti Emir dan Hj. Suroya ini juga tercatat aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bahkan sempat menjabat sebagai Ketua PB HMI periode 1990-1992. Ternyata selain menjadi aktivis, ibu tiga anak ini juga pernah menjadi dosen Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta, di almamaternya, dari 1989-1991. ”Nah, di pengujung 1991, saya sempat menjadi Senior Management Administrator dan Recource Assistant pada proyek pengembangan kawasan terpadu di Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri (Ditjen Bangda Depdagri) yang dibiayai Bank Dunia. Pekerjaan sebagai konsultan ini saya jalani sampai 2002. Karena pada tahun yang sama saya diberi kepercayaan sebagai tenaga ahli Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah sampai 2004.”

Kegiatannya sebagai aktivis dan konsultan telah mengantarkan Kak Lena melawat ke berbagai negara yang ada di lima benua. Ia di sana bisa melihat langsung bagaimana praktik penyelenggaraan negara dan demokrasinya. Menurut Kak Lena, sejak kecil dirinya memang dilatih oleh kedua orang tua maupun tantenya, H. Maswani, untuk menjadi seorang pemimpin. Hal inilah yang membuat Kak Lena aktif di berbagai organisasi di antaranya Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Generasi Muda Pembangunan Indonesia (GMPI), Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi), Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI), Indonesian Committee for Religion and Peace (ICRP), Asian Council for Religion and Peace (ACRP), dan Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC). ”Saya beruntung dikelilingi orang-orang yang selalu mendukung. Tak hanya kedua orang tua tapi juga tante dan suami yang tak pernah lelah memberikan pembelajaran bagaimana kita menjadi leader,” ujar anak kedua dari sepuluh bersaudara ini.

Good and Clean Governance
Dari semua pengalaman organisasi dan perjalanan karier inilah akhirnya turut menumbuhkan kesadaran Kak Lena untuk ikut memperbaiki nasib rakyat yang kurang beruntung dengan jalan terlibat secara aktif menciptakan tata pemerintahan yang bersih. Atas dukungan masyarakat Jakarta pada Pemilu 2004, Kak Lena pun terpilih sebagai anggota DPR-RI dari PPP.
”Di lembaga ini saya bergabung ke Komisi II yang menangani bidang Pemerintahan Dalam Negeri Otonomi Daerah, Aparatur Negara dan Pertanahan. Selama duduk sebagai anggota saya berusaha menunjukkan komitmen dan keberpihakan kepada masyarakat,” jelas Kak Lena yang juga berterima kasih kepada almarhum Ali Marwan Hanan karena menjadikannya sebagai politisi tangguh.
Selain menjalankan fungsi pengawasan, legislasi, dan budgeting, sebagai anggota Dewan dengan sebaik-baiknya Kak Lena juga banyak mewarnai kebijakan-kebijakan khususnya untuk perempuan. ”Sebagai contoh, selama ini jika ada kongres, pelatihan atau diklat kebanyakan yang dikirim adalah laki-laki. Kala itu, saya minta perempuan juga dikirim dalam kegiatan tersebut agar tidak menjadi pendengar saja tapi juga utusan. Menurut saya, semakin sering perempuan mengikuti berbagai kegiatan serta diberi kesempatan masuk posisi strategis maka dia akan belajar, berlatih, dan menyesuaikan keadaan yang ada. Biar bagaimanapun posisi perempuan paling rentan dan menderita apabila ada kebijakan baik ekonomi, pendidikan, maupun seni yang tidak berpihak kepada masyarakat. Karena perempuan adalah tokoh sentral dalam kehidupan manusia, memikul beban berat melahirkan dan mendidik anaknya,” terang mantan anggota MPR-RI periode 1997-1999.

Meski kini tidak lagi terbilang muda, usia tetap tak menjadi halangan baginya. Bagi Ketua Bidang Agraria DPP PPP periode 2016-2021 ini, keprihatinan terhadap kondisi yang dialami kaum perempuan membuatnya memilih terus aktif tanpa mempedulikan usianya. Ia terus berjuang membela hak dan membebaskan kaum perempuan dari ketertindasan. Hal ini sudah menjadi komitmennya sejak menjadi Ketua HMI dan Ketua Senat. ”Alhamdulillahnya, saya terbiasa di organisasi yang sifatnya heterogen ada laki laki dan perempuan. Saya merasa kehadiran di posisi ini justru lebih strategis karena bisa menyuarakan kepentingan perempuan; mulai menyusun kepengurusan di bawah departemen sampai melakukan keseimbangan sesuai dengan struktur proporsional dalam setiap kegiatan,” tutur Kak Lena yang saat ini mengoordinir lebih dari 175 tokoh perempuan berbagai latar belakang seperti akademisi, politisi, profesional yang tergabung di whatsapp pfi.

Kak Lena menambahkan, anak muda harus tetap bisa mempertahankan nilai keindonesiaan baik itu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, toleransi, kesantunan, plularisme serta kemanusiaan. Jika poin-poin tersebut menghilang, kemajuan dari sisi teknologi maupun ekonomi yang berhasil dicapai, tidaklah ada artinya. Apalagi generasi muda masa kini terutama di Indonesia telah digoyahkan dengan 4F 5S yaitu Food, Fun, Fashion, Film, Sport, Sex, Smoke, Science, Songs. Belum lagi masalah orang tua yang sering kali tidak sama taste dan langkahnya dengan anak zaman sekarang sehingga agak sulit ketika kita ingin memberi masukan kepada mereka.

Pada zaman modern ini sekuat apapun mencegah masuknya budaya asing, pasti ada saja celah masuk di antara pencegahan yang dilakukan. Dengan demikian, menurut Kak Lena, hal pertama yang harus dilakukan adalah kembali kepada agama. Semua itu dimulai dari rumah dengan membentuk fondasi dan pertahanan keluarga yang kokoh. Kak Lena berharap semoga ke depannya rasa keindonesiaan ini semakin bangkit dan agama Islam benar-benar menjadi acuan dari setiap langkah yang ingin diambil oleh Indonesia.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

August 2016
M T W T F S S
« Jun   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

noormagazine © 2017 All Rights Reserved