Stop Kekerasan Seksual dari Akarnya!

024-025 Tafakur muslimah-1

Teks: Badriyah Fayumi I Foto: istimewa

Kekerasan seksual adalah buah dari pohon masalah yang memiliki akar-akar yang tak tampak. Menyelesaikan masalah tanpa menyelesaikan akarnya ibarat memangkas pohon hanya dedaunannya.

Di awal menyeruaknya kasus YY, seorang gadis dari Rejang Lebong 14 tahun yang diperkosa 14 orang remaja dan laki-laki dewasa hingga meningga dunia dan mayatnya dibuang ke jurang, banyak pejabat daerah, pusat, dan APH (aparat penegak hukum) tidak responsif. Peristiwa itu dianggap sebagai hal biasa, bahkan ada komentar pejabat tinggi negara yang malah menyalahkan korban. Protes keras dari masyarakat pun mengalir.
Kasus YY telah menjadi pemecah gunung es dan pembuka kotak pandora akan akut dan biadabnya kekerasan seksual yang terjadi. Bulan April dan Mei 2016 ini kasus-kasus kekerasan seksual yang biadab muncul beruntun di media. Di Kediri, seorang pengusaha kaya raya memerkosa anak SD dan SMP yang disinyalir berjumlah 50 orang lebih. Di Manado, gang rape juga menimpa V (19 tahun) oleh 19 pria, dua pelakunya diduga oknum polisi. Di Tangerang, gadis EP (18 tahun), tewas mengenaskan karena diperkosa dan dibunuh secara sadis oleh tiga pemuda, salah seorang di antaranya kekasih EP yang masih berusia 15 tahun. Di Medan, Lampung, Sorong, dan lain-lain kekerasan seksual yang sadis juga terjadi.

Respons Masyarakat dan Negara
Kemarahan bangsa ini telah serentak memunculkan berbagai aksi, dari pernyataan sikap berbagai ormas dan LSM, blow up media hingga aksi solidaritas di Tugu Proklamasi yang diinisiasi oleh ratusan kelompok masyarakat sipil dan Komnas Perempuan, serta dihadiri pula oleh mantan Presiden Megawati dan beberapa menteri Kabinet Kerja.Desakan untuk mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual menggaung keras. Baleg DPR RI pun kemudian setuju RUU ini menjadi prioritas pembahasan tahun 2016.
Merespons kekerasan seksual yang makin biadab, gang rape yang makin marak, serta makin banyaknya anak yang menjadi korban dan pelaku kejahatan seksual, Presiden Jokowi mengeluarkan Perppu No. 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dalam Perppu ini diundangkan pemberatan hukuman antara lain penjara maksimal 15 tahun dan tambahan 1/3-nya jika pelaku orang tua, wali, keluarga, pengasuh, pendidik dan tenaga kependidikan, aparat pemerintah, atau dilakukan oleh lebih dari satu orang secara bersama-sama. Selain itu ada pidana tambahan berupa pengumuman identitas pelaku, kebiri kimia disertai rehabilitasi, dan pemasangan chip.
Perppu ini secara umum disambut baik oleh masyarakat yang sudah sangat geram dengan perkosaan dan kejahatan seksual lainnya, meski jenis pemberatan hukuman berupa kebiri masih menyisakan perdebatan. Di kalangan aktivis HAM yang selama ini aktif mendampingi korban, penolakan itu lebih karena Indonesia telah meratifikasi Konvensi Anti-Penyiksaan yang menegasikan hukuman yang menistakan martabat kemanusiaan. Kebiri dipandang menistakan martabat kemanusiaan. Kebiri juga dipermasalahkan dari sisi agama karena belum dikenal dalam yurisprudensi Islam dan memutus hak manusia untuk berketurunan. Kalangan dokter menilai kebiri bertentangan dengan Kode Etik Kedokteran. Kebiri juga dinilai tidak menyelesaikan masalah kekerasan seksual karena kekerasan seksual bisa dilakukan bukan dengan alat kelamin. Kasus EP di Tangerang baru-baru ini adalah salah satu bukti bahwa kekerasan seksual tidak mesti dengan alat kelamin. Perempuan malang ini meninggal dengan cangkul yang dimasukkan ke vaginanya hingga tembus ke paru-paru. Sangat biadab!

Tak Cukup Pemberatan Hukuman
Di luar pro-kontra kebiri yang sifatnya optional dalam Perppu tersebut, pemberatan hukuman bagi pelaku kejahatan seksual memang sudah seharusnya. Namun demikian, kekerasan seksual tidak cukup diselesaikan hanya dengan pemberatan hukuman. Pasalnya, kekerasan seksual itu sendiri adalah buah dari pohon masalah yang memiliki akar-akar yang tak tampak. Ya, akar masalah memang tidak tampak tapi ia mendasari terjadinya suatu masalah. Menyelesaikan masalah tanpa menyelesaikan akarnya ibarat memangkas pohon hanya dedaunannya.
Kekerasan seksual dalam banyak kasus dipicu oleh narkoba, miras, dan pornografi. Kasus gang rape yang menimpa YY adalah salah satu contohnya. Banyak kasus anak pelaku kekerasan yang dipicu oleh pornografi. Narkoba juga telah terbukti menjadi pemicu seks bebas dan kekerasan seksual. Hukum agama sudah sangat jelas tentang hal ini. Narkoba, miras, dan pornografi adalah dosa besar yang merusak otak, menistakan manusia dan perikemanusiaan. Karena itu, kita mendukung segala regulasi dan penegakan hukum yang dimaksudkan untuk melindungi masyarakat, keluarga, dan anak dari bahaya narkoba, miras, dan pornografi.

Akar Masalah
Adanya pengaruh miras, narkoba, dan pornografi terhadap banyak kasus kekerasan seksual di Indonesia, adalah hal yang sudah jelas. Meski demikian dalam konteks kekerasan seksual, ketiganya adalah pohon masalah yang tidak berdiri sendiri. Ada akar yang menjadi penyebabnya, yang kemudian berbuah kekerasan seksual.

Penasaran? Baca selengkapnya di Majalah Noor terbaru Volume 15 tahun 2016

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

June 2016
M T W T F S S
« May   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

noormagazine © 2017 All Rights Reserved