PANTANG BANGKRUT USAI LEBARAN

020-021 gaya hidup-1

Teks: Badriyah Fayumi I Foto: Istimewa

Hakikat bangkrut yang sesungguhnya itu adalah kebangkrutan di akhirat. Sebuah kebangkrutan abadi yang seharusnya dihindari setiap muslim.

Rasulullah saw. suatu kali bertanya kepada para sahabatnya, tahukah kalian siapakah orang bangkrut itu? Para sahabat menjawab, ”Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan harta benda.” Nabi menyahut, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang nanti pada hari kiamat datang dengan (membawa pahala) puasa, salat, zakat, dan (sekaligus membawa dosa) melecehkan kehormatan si ini, melakukan tuduhan dusta si itu, dan memakan harta si anu. Lalu setelah amalnya ditimbang, kebaikannya berkurang (karena kejahatannya), dan jika timbangan kebaikannya sudah habis sebelum dosanya tuntas, dosa orang yang dijahati diambil dan dilemparkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke neraka.” Demikian hadis riwayat Imam Muslim dan Tirmidzi dari Abu Hurairah ra.
Dari hadis ini, kita mendapatkan dua pengertian tentang bangkrut. Jawaban sahabat merupakan pengertian bangkrut secara duniawi. Sementara Nabi memberikan pengertian tentang hakikat bangkrut yang sesungguhnya.
Tradisi Lebaran dengan beragam aktivitasnya memang menyedot banyak uang. Meski demikian, kita tidak ingin Lebaran menjadikan keluarga kita bangkrut. Pada saat yang sama, kita juga tidak ingin menjadi asosial karena sama sekali mengabaikan tradisi silaturahim, mudik, menjamu tamu, dan berbagi hadiah yang kesemuanya memang membutuhkan uang.

Selalu Untung
Alquran dan hadis telah memberikan arah bagaimana mempergunakan harta agar selalu untung. Tentu untung di sini tidak sama dengan untung dalam persepsi bisnis di dunia yang terfokus kepada surplusnya kapital. Sebagaimana bangkrut yang tidak hanya berkonotasi harta dan berdimensi duniawi, untung dalam pandangan agama juga demikian. Manusia yang beruntung bukanlah yang banyak hartanya, melainkan yang kebaikannya surplus selama hidup di dunia. Kebaikan itu bisa dihasilkan melalui banyak ragam ibadah dengan memaksimalkan modal yang sudah Allah berikan kepada kita yakni fisik, hati, ilmu, harta, dan waktu (umur). Sebagai salah satu modal, harta bisa mengantarkan manusia meraih keuntungan duniawi dan ukhrawi. Sebaliknya, harta juga bisa menyebabkan kebangkrutan, duniawi maupun ukhrawi.
Kita semua pasti ingin agar harta yang diamanatkan Allah kepada kita menjadi modal yang menguntungkan dunia dan akhirat. Kita juga mau agar harta yang dibelanjakan untuk Lebaran tak membuat kita bangkrut duniawi maupun ukhrawi. Keinginan dan kemauan ini wajar belaka, bahkan menjadi keharusan seorang muslim.

Lima Hal
Paling tidak ada lima hal yang jika dilakukan, insya Allah, Lebaran kita selalu untung dunia akhirat dan tidak bangkrut dunia akhirat, dengan kelimanya itu merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan satu sama lain.
PERTAMA, pasang niat dengan benar. Jika harus mudik, niatkan untuk silaturahim. Berbagi hadiah niatkan untuk membahagiakan orang lain. Mengecat rumah dan menyiapkan kue Lebaran niatkan untuk menjamu tamu. Dengan niat yang benar, belanja Lebaran, insya Allah, menjadi amalan akhirat. Secara nominal harta kita berkurang tapi secara hakikat, insya Allah, harta kita menjadi berkah dan menambah rekening akhirat.
KEDUA, tinggalkan yang haram dan syubhat. Prinsip ini sangat penting karena setiap daging yang tumbuh dari usaha yang haram, neraka lebih layak baginya. Betapapun banyak kebutuhan Lebaran, jangan pernah mengambil jalan pintas untuk memenuhinya dengan cara yang haram, mulai mencuri dan korupsi hingga berlaku curang dalam berdagang, dan berutang dengan niat mengemplang. Semua tindakan haram secara lahir tampak menghasilkan uang tapi hakikatnya menjerumuskan kepada kebangkrutan dunia maupun akhirat. Keinginan tampil gaya dengan cara-cara haram hanya akan menyebabkan dorongan berbuat maksiat, kosongnya jiwa, dan hilangnya keberkahan dan kedamaian.
KETIGA, jangan melampaui batas. Meskipun harta kita halal dan kita punya otoritas dan kebebasan penuh atas harta kita, tetap proporsional membelanjakan harta adalah kewajiban agama. Secara eksplisit Alquran melarang israf atau berlebihan dalam konsumsi (QS. al-A’raf/7: 31), tabdzir atau menyia-nyiakan harta (QS. al-Isra’/17: 26-27), terlalu pelit dan terlalu murah (QS. al-Isra’/17: 29), serta terlalu ambisius mengumpulkan dan menghitung-hitung harta (QS. al-Humazah/ 104:1-3). Semua tuntunan ini perlu dipedomani setiap muslim saat hendak berbelanja Lebaran. Jangankan uang terbatas, banyak uang pun sikap-sikap negatif ini tercela dan merugikan diri sendiri.
KEEMPAT, prioritaskan yang wajib dan sunah, baru yang mubah. Zakat fitrah, zakat mal, membayar utang dan nafkah adalah wajib. Sedekah, wakaf, dan hadiah adalah sunah. Mempercantik rumah dan mengganti mobil adalah mubah. Agar dana Lebaran berkah, membelanjakannya dengan skala prioritas dari yang wajib, lalu sunah, baru mubah, sangatlah penting. Yang wajib jangan sampai ditinggalkan, yang sunah jangan sampai disepelekan.
KELIMA, gunakan ilmu yang benar dalam mengelola harta. Allah Swt. memerintahkan kita bertanya kepada orang yang ahli. Rasulullah saw. pun menyerahkan urusan-urusan duniawi kepada kita sendiri. Ini artinya bahwa manajemen harta, termasuk bagaimana mengelolanya agar menghasilkan keuntungan dunia dan akhirat, mesti dipelajari. Selain menjalankan harta sesuai dengan tuntunan agama, mengelolanya dengan ilmu manajemen keuangan keluarga modern juga perlu dilakukan. Berkonsultasi kepada ahli bisa dilakukan jika diperlukan.
Lebaran setiap tahun selalu datang. Lebaran, insya Allah, tak akan membangkrutkan kita di dunia dan bahkan membawa keuntungan dunia dan akhirat jika prinsip-prinsip kemaslahatan, prioritas, kemanfaatan, dan kepatutan dilakukan. Pada saat yang sama agar keuntungan itu tidak berubah menjadi kebangkrutan akhirat, semua amal baik yang kita lakukan di dunia ini tidak dibarengi dengan perbuatan menyakiti dan menzalimi sesama, karena kezaliman pada sesama adalah penyebab utama kebangkrutan di akhirat sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi di atas.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

June 2016
M T W T F S S
« May   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

noormagazine © 2017 All Rights Reserved