MUSLIMAH INDONESIA DAN KETAHANAN EKONOMI KELUARGA

028-030 focus BAD-1

Teks: Badriyah Fayumi I Foto: Istimewa

Perempuan Indonesia sejak dulu dikenal ulet, rajin, produktif, kreatif, rela bersusah payah demi kelangsungan hidup keluarga. Perempuan, bahkan, tak jarang menjadi tulung punggung ekonomi keluarga yang utama karena berbagai sebab.

Dalam keluarga petani adalah hal biasa suami istri berbagi tugas mengurus sawah mulai dari menanam hingga menjual hasil panen. Kerja sama ekonomi suami istri juga lazim terjadi dalam keluarga pedagang, perajin, pewirausaha, pengusaha, pengelola lembaga pendidikan, penyedia layanan kesehatan, pekerja seni dan profesi lainnya. Bahkan dalam keluarga dengan istri berprofesi sebagai ibu rumah tangga, kerja sama pun terjadi. Suami mencari nafkah, sementara istri mengatur rumah tangga dan mengerjakan semua pekerjaan domestik dengan suka rela dan apik tanpa ada hitungan jam kerja. Istilahnya, di rumah tangga, istri bekerja sejak matahari belum terbit hingga mata bapak terbenam.
Realitas sosial yang demikian inilah yang menjadi alasan mengapa dalam praktik, UU Perkawinan maupun hukum Islam yang dipositifkan dalam Kompilasi Hukum Islam ada aturan tentang harta gono-gini. Aturan itu ada karena peran ekonomi perempuan Indonesia sangat jelas dan nyata. Ada andil dan peran perempuan dalam ekonomi keluarga, termasuk perempuan yang murni menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga. Hal demikian tidak terjadi di beberapa negara Timur Tengah. Wajar jika institusi harta gono gini tidak ada dalam kitab-kitab fikih yang banyak dipelajari umat Islam Indonesia, karena kitab fikih tersebut diproduksi oleh ulama Timur Tengah yang konteks sosial ekonomi keluarganya tidak sama dengan di Indonesia.

Pencari Nafkah Utama
Lebih dari bekerja sama, perempuan Indonesia saat ini banyak yang menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga, bahkan kepala keluarga. Peran itu dijalani lantaran berbagai sebab seperti suami meninggal, bercerai dan harus menghidupi anak-anaknya, ditelantarkan suami, tidak menikah tapi menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, suami sakit atau mengalami kondisi yang membuatnya sama sekali tidak mampu mencari nafkah. Badan Pusat Statistik dalam Sensus 2014 mencatat, perempuan kepala keluarga di Indonesia sebanyak 14,84% dari total keluarga Indonesia. Angka ini mengalami kenaikan dari periode sebelumnya. Tahun 2001, rumah tangga yang dikepalai perempuan ada 13%, dan tahun 1985 masih 7,54%.
Peran perempuan Indonesia dari beragam kalangan dan latar belakang dalam membangun ekonomi keluarga Indonesia adalah fakta yang tak terbantahkan. Yang lebih menarik lagi, Indonesia juga kaya dengan tokoh ibu single parent yang tak hanya mampu membangun ketahanan ekonomi, tapi lebih dari itu mampu melewati kesulitan ekonomi yang membelitnya dalam rangka mengantarkan anak-anaknya menjadi manusia hebat dan bermanfaat.

Sekadar menyebut contoh, Presiden Habibie dan Presiden Abdurrahman Wahid. Mereka dulunya adalah anak-anak yatim yang diantarkan menjadi sukses oleh ibu single parent yang luar biasa. Contoh terbaru adalah kisah nyata yang diangkat dalam film MARS (Mimpi Ananda Raih Semesta). Dikisahkan dalam film ini perjuangan berat Ibu Tupon dari Gunung Kidul, perempuan buta huruf dan janda sangat miskin, yang berhasil mengantarkan putrinya, Sekar Palupi, meraih gelar sarjana dari Oxford University.
Sungguh patut kita syukuri, di negeri ini banyak perempuan luar biasa yang berperan nyata dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga dan tidak menyerah dalam kesulitan ekonomi yang membelitnya. Pada saat yang sama, kita juga bersyukur karena saat ini semakin banyak perempuan hebat dari beragam latar belakang profesi yang kuat secara ekonomi atau pengetahuannya, yang dengan kesadaran penuh mengambil peran nyata dalam meningkatkan kesejahteraan dan memberdayakan kaumnya. Perempuan Indonesia adalah pelaku aktif ketahanan ekonomi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Karakter positif perempuan Indonesia telah menjadi modal sosial tak ternilai yang menjadikan keluarga-keluarga di Indonesia mampu terus bertahan dan melangkah, meskipun situasi sedang sulit, bahkan saat krisis dan bencana sekalipun. Subhanallah.

Nilai yang Terbalik
Karakter positif telah ada dan menjadi modal sosial. Berbanding lurus dengan itu, saat ini tantangan yang dihadapi juga tidak ringan. Perempuan Indonesia kini, termasuk para muslimah, atas nama modernitas dan gaya hidup sedang menghadapi arus deras materialisme, hedonisme, dan konsumerisme. Benteng pertahanan dan ketahanan ekonomi keluarga pun diuji kekuatannya. Muslimah kembali diperlukan daya tahannya. Tak kuat menghadapi godaan tersebut muslimah bisa terjerat utang, terlibat transaksi manipulatif, tergoda korupsi, terlena oleh gratifikasi, terlibat aksi tipu sana-sini, sampai rela menjual diri, atau bahkan mengorbankan orang lain untuk dijual (human trafficking). Di keluarga miskin tertentu, demi mendapatkan uang ada orang tua yang rela menjual atau melacurkan anaknya, ada ayah rela menyetubuhi putrinya dengan alasan sayang jika harus memberikan uang kepada pelacur. Menyedihkan.
Beberapa nilai menjadi terbalik. Jika dulu malu berutang, orang kini malah berbangga. Benda kecil bernama kartu kredit telah membalik rasa itu. Makin banyak kartu kredit dianggap sebagai indikasi makin banyaknya bank yang percaya. Jika dulu kasus hukum dan kasus asusila membuat orang terdampak secara ekonomi karena dipandang negatif oleh masyarakat, kini malah sebaliknya. Selepas dari penjara banyak pesohor malah makin terkenal dan dielu-elukan.
Modernitas dengan segala yang dibawa dan perubahan nilai-nilai sungguh menjadi tantangan khusus bagi muslimah saat ini. Bagaimana agar gaya hidup yang terus dipromosikan dengan sangat menarik tidak meruntuhkan ketahanan ekonomi keluarga. Bagi keluarga yang berpunya, gaya hidup modern itu tidak membuatnya lupa diri. Bagi yang tidak berpunya, tuntutan kebutuhan dan gaya hidup tidak menjadikannya kehilangan jati diri dan rendah diri.

Keniscayaan Agama
Pada titik ini, menjadikan agama sebagai pedoman gaya hidup adalah keniscayaan. Pasalnya, ketahanan ekonomi keluarga pada dasarnya bukan semata soal ketercukupan kebutuhan. Yang lebih penting dari itu adalah soal cara pandang terhadap harta dan keluarga itu sendiri, serta keterampilan mengelola keuangan keluarga.

Baca selengkapnya di Majalah Noor Terbaru Volume 15 Tahun 2016

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

June 2016
M T W T F S S
« May   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

noormagazine © 2017 All Rights Reserved