Mencari Rezeki

053 mirror

Teks: Sri Artaria I Foto: Istimewa

Banyak orang sekarang terjebak lingkaran setan yang membuatnya mengejar rezeki dengan mengorbankan banyak hal lebih penting. Seorang anak menuntut pendidikan tinggi agar mendapat ijazah yang menjaminnya mendapat penghasilan baik. Demi memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan, kedua orang tua bekerja dari pagi sampai malam dengan menitipkan anaknya kepada orang lain. Banyak produk yang sebenarnya tak perlu, dianggap prioritas karena mengejar status tertentu dalam masyarakat. Tanpa disadari, bertambahnya upah bertambah banyak pula keinginan memiliki produk-produk sebagai simbol status sehingga pengeluaran pun bertambah.
Tidak ada waktu lagi salat berjamaah dengan anak-istri, atau makan bersama di meja. Apalagi berdiskusi atau bercerita kepada anak. Beribadah pun menjadi kegiatan sekunder yang dilakukan sambil-lalu kalau keburu. Orang yang berangkat ke kantor sebelum subuh dan pulang saat isya sebenarnya sudah tak dapat lagi memelihara keseimbangan dalam keluarganya. Seandainya ia sadar kalau Allah Swt. yang memberi rezeki dan setiap manusia yang lahir sudah ada jatah rezekinya.
Allah Swt. hanya meminta kita untuk taat, bersyukur, dan ikhlas menerima takdir agar dapat memelihara keseimbangan hidup. Dalam ketidakseimbangan inilah akan timbul berbagai masalah, dari ketegangan antara suami-istri, anak-anak yang kurang berakhlak, dan juga berbagai penyakit. Tak akan makan waktu terlalu lama sampai terlihat gejala-gejala yang meresahkan. Waktu habis mengejar kepentingan dunia sehingga bertambah jauh dari Mahapencipta, padahal Dialah pemegang kunci gudang rezeki.
Di sinilah peran istri menjadi penting sebagai penyeimbang, sebagai pengelola keuangan keluarga, yang mengatur berbagai pos pengeluaran terutama menjelang Idulfitri. Istri yang tahu diri dan pandai tidak menuntut melebihi kapasitas suaminya. Ia bahkan akan berusaha mencari pemasukan tambahan yang didapat dari usaha rumahan.
Anak-anaknya pun dia didik hidup apa adanya sesuai dengan penghasilan suaminya. Ibadahnya yang teratur membuatnya sabar dan tegar dalam mencari solusi dalam rumah tangganya. Ia tak mau terjebak dalam lingkaran setan yang menuntut pengorbanan terlalu besar. Ia pandai memelihara dan merawat keluarganya agar senantiasa bahagia dalam keadaan susah dan senang. Ia pun dapat mengayomi suami agar membatasi diri sesuai dengan batasannya.
”Orang yang tiada dirintangi (lalai) oleh perniagaan dan berjual beli dari mengingat Allah, mengerjakan salat dan mengeluarkan zakat, mereka tidak takut akan hari kiamat yang gemetar hati dan pemandangan pada waktu itu. Supaya Allah membalasi orang-orang yang mengerjakan pekerjaan yang baik dan menambah kurnia untuk mereka, Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dengan tiada terhitung banyaknya.” (QS. An-Nur/24: 37, 38).

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

June 2016
M T W T F S S
« May   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

noormagazine © 2017 All Rights Reserved