Kandil & Kampung Srundeng

074-075 art & culture-1

Teks & Foto: SAS

Memperingati 60 tahun usianya, Yayasan Sayap Ibu mempersembahkan Drama Musikal Kandil & Kampung Srundeng di Teater Jakarta, TIM, beberapa waktu lalu. Komunitas Peduli Sayap Ibu dengan tulus bekerja keras menyiapkan sebuah upaya penggalangan dana melalui pergelaran drama musikal ini. Yayasan Sayap Ibu didirikan Ibu Sulistina Sutomo pada 1955 dan bertujuan untuk mengasuh anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka.

Kisah Kandil & Kampung Srundeng memaparkan keberanian dan keyakinan yang amat inspiratif. Kandil, Acip, dan Siti tiga bersaudara di sebuah desa kecil. Ayah mereka, Pak Siswo, seorang petani yang memutuskan mencari pekerjaan di Jakarta agar dapat mengangkat taraf hidup keluarganya. Setelah beberapa lama tidak ada kabarnya, istrinya, Surti, memutuskan untuk menyusul mencari suaminya dengan membawa ketiga anaknya. Kandil berjualan serundeng agar dapat memperoleh uang mencari Pak Siswo, Surti terpisah dari anak-anaknya secara tidak sengaja. Saat berjualan serundeng di kota, Kandil berjumpa Ibu Wardoyo, pemilik panti asuhan yang menampung mereka selama terpisah dari ibunya.

Di panti, Kandil mengajarkan teman-temannya membuat serundeng yang dijual untuk membantu panti asuhan Bu Wardoyo menjadi mandiri. Serundeng mereka terkenal dan banyak yang memesan. Suatu hari ada pesanan serundeng dari Bu Surip yang tak lain adalah kakak Bu Surti. Kandil beserta adik-adiknya berkumpul lagi dengan ibunya. Mereka memutuskan untuk berhenti mencari Pak Siswo dan kembali ke desa. Saat sampai di rumah, mereka terkejut dan gembira melihat Pak Siswo sudah kembali dan sukses membangun usaha jahit-menjahit. Kandil meneruskan usahanya berjualan serundeng sehingga desa itu dikenal sebagai Kampung Serundeng.

074-075 art & culture-5

Kembalinya Lagu Anak
Drama musikal anak-anak ini didukung Chandra Satria yang berperan sebagai Pak Siswo, Inayah Wahid sebagai Bu Siswo, Cut Syifa sebagai Kandil, Mighdad sebagai Acip, dan Sabia sebagai Siti. Pak Wardoyo diperankan Baim Wong dan Happy Salma sebagai Bu Wardoyo. Banyak lagi pemeran pendukung, di antaranya Ghea Panggabean yang menyanyikan satu lagu dan juga anak-anak Panti Asuhan Sayap Ibu yang turut menyanyi dan menari memeriahkan pergelaran ini.

Lagu-lagu anak yang sudah lama dikenal dibawakan secara indah dengan latar belakang panggung yang didukung multimedia, sehingga penonton bisa menikmati jalannya cerita dengan baik meski hampir tiga jam acara berlalu. Beberapa lagu yang diperdengarkan mengiringi pergelaran seperti Anak Gembala, Tamasya, Ayah, dan Nasi Goreng yang berbahasa Belanda. Drama ini disutradarai Ida Soeseno dengan grup orkestra pimpinan Tony Novianto.

Alangkah indahnya bila pementasan ini diulang untuk umum sehingga dapat dinikmati lebih banyak anak. Dengan demikian, anak Indonesia tak terpapar hiburan impor saja selain juga dapat mengenal budaya dan nilai-nilai kehidupan bangsanya.
Pada kesempatan ini berbagai hasil karya anak panti juga dipamerkan seperti lukisan-lukisan di atas kanvas, di atas baju kaus, dan sebagai kartu ucapan.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

June 2016
M T W T F S S
« May   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

noormagazine © 2019 All Rights Reserved