Hanan Al Hroub : Mendidik dengan Saling Menghormati

076-077 khazanah-1

Teks: Yudiana, berbagai sumber I Foto: berbagai sumber

Di tengah konflik Palestina dengan Israel, sosok Al Hroub menjelma menjadi tokoh pendidik terbaik dunia. Hroub menyuarakan no to violence dan menjadikan anak murid ibarat keluarganya sendiri.

Predikat Guru Terbaik Dunia yang diterimanya di ajang Global Teacher Prize di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), dijadikannya ladang pengabdian Al Hroub untuk terus mencoba memperbaiki keadaan pendidikan di negaranya. Ia giat melakukan sesuatu bagi anak-anak Palestina yang menderita trauma akibat kekerasan. Ya, kekerasan memang menjadi pemandangan sehari-hari di lingkungan tempat tinggalnya. Karena itu, Al Hroub tak ingin menjadi sosok yang hanya berpangku tangan melihat perlakuan tak mengenakkan itu. Perempuan berhijab ini memantapkan tekad untuk mengajar di kamp pengungsian Palestina di Bethlehem – tempatnya lahir, tumbuh, dan dibesarkan. Lewat kebisaannya mengajar, guru Sekolah Menengah Samiha Khalil ini bertekad keras untuk mengubah cara mengajar, mendidik, dan memberi hukuman kepada para siswanya. Ia khususnya tak ingin mengajar, mendidik, dan menghukum siswanya dengan cara-cara kekerasan. Tekadnya
itu dilatarbelakangi rasa prihatin mendalam saat melihat salah seorang anaknya menderita trauma psikis. Sang buah hati memang sering melihat aksi kekerasan dalam perjalanan pulangnya dari sekolah.

Bagi Al Hroub dan guru lainnya di Palestina menjadi tenaga pengajar bukanlah perkara mudah. Pasalnya, pendidikan adalah sebuah bagian yang memprihatinkan di sana. Sarana dan prasarana
yang minim di negara Timur Tengah yang terletak di antara Laut Tengah dan Sungai Yordan ini juga menjadi kendala yang tak bisa dianggap enteng. Alhasil, uang pribadi kebanyakan guru tidak sedikit habis dipakai untuk biaya operasional. Kondisi yang serbaminim itu semakin memprihatinkan demi melihat berjejalannya murid dalam satu kelas yang bisa terisi 35 orang siswa. Namun, semua keterbatasan itu tidak meruntuhkan tekad Al Hroub untuk tetap mengabdikan hidupnya menjadi seorang guru. Ia malah melihatnya sebagai sebuah tantangan untuk bagaimana
dia bisa ”melahirkan” murid-murid yang terbaik. Namun, siapa sangka, tantangan itu juga yang mengantarkan Al Hroub menjadi sosok pengubah dunia. Lewat predikat Guru Terbaik Dunia, muslimah berusia 43 tahun ini mengajarkan metode mendidik yang welas asih. Sebuah metode belajar yang saling menumbuhkan rasa percaya, saling menghargai dan menghormati, sarat kasih sayang, serta mendorong perilaku positif anak agar bermanfaat untuk sesama. Disisipkannya pula permainan-permainan dalam metode ajarnya agar anak merasa senang.
Duta pendidikan Hanan Al Hroub kini jelas menjadi kebanggaan rakyat Palestina. Sebagai sosok yang dilahirkan dan tumbuh di kamp pengungsian di Bethlehem, perempuan yang suaminya tewas ditembak tentara Israel ini pun bangga sebagai warga Palestina. ”Saya bangga ada di sini, di panggung kehormatan pemberian penghargaan di ajang  Global Teacher  Prize, sebagai seorang guru perempuan terbaik dunia dari Palestina. Saya menang, saya berhasil!” ujar Al Hroub lantang seusai penyerahan penghargaan. Hroub juga mendedikasikan kemenangannya untuk semua guru di dunia, khususnya di Palestina. Sedangkan hadiah uang senilai US$ 1 juta atau sekitar Rp 13 miliar yang didapatnya, ia akan manfaatkan
untuk membantu pengembangan dunia pendidikan dan karier
para siswa serta guru di dunia.

Baca selengkapnya di Majalah Noor volume 15 tahun 2016 

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

June 2016
M T W T F S S
« May   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

noormagazine © 2017 All Rights Reserved