CALON SUAMI MELARANG SAYA BEKERJA

Assalamualaikum wr. wb.
NooR yang baik, saya mau menikah tapi menjadi bimbang karena calon suami melarang saya bekerja setelah menikah. Saya sarjana dan PNS, calon suami wirausaha. Bagi saya, bekerja bukan sekadar soal uang melainkan juga mengamalkan ilmu dan aktualisasi diri. Bagaimana agama memberikan tuntunan dalam hal ini dan bagaimana sebaiknya saya bersikap?
Wassalamualaikum wr.wb.
Nurma, Jakarta Pusat.

Nurma yang sedang bimbang, NooR sarankan masalah ini dibicarakan tuntas dengan calon suami sebelum menikah, karena pada dasarnya perkawinan haruslah membahagiakan kedua belah pihak. Perkawinan bukan berarti menghilangkan jati diri istri sebagai manusia. Sama dengan laki-laki, perempuan juga memiliki kebutuhan dasar yang bersifat fisik dan biologis, rasa aman, sosialisasi, aktualisasi diri, memiliki kehidupan pribadi, dan lain-lain.

Tolong ditanyakan kembali, apa alasannya melarang. Jika pertimbangannya demi kemaslahatan keluarga, dan ada solusi yang melegakan bagi Nurma untuk mengamalkan ilmu dan aktualisasi diri di luar menjadi PNS, silakan melangkah menuju perkawinan. Namun, jika larangan itu alasannya semata karena ia berkeyakinan bahwa keputusan apapun dalam keluarga adalah hak prerogatif suami, Nurma bisa mempertimbangkan kembali rencana perkawinan karena perkawinan yang dibangun di atas dominasi satu pihak sangat rentan melahirkan kekerasan dan eksploitasi.
Nurma tentu tidak ingin perkawinan selamanya dibangun di atas relasi yang timpang, bukan? Calon suami perlu diubah cara pandangnya bahwa pemimpin dalam keluarga bukan hak yang membolehkannya berbuat semena-mena. Kewajiban pemimpin adalah menjaga dan meraih kemaslahatan keluarga, memberikan pengayoman dan kebahagiaan kepada setiap individu dalam keluarga.

Secara agama, istri memang tidak ada kewajiban memenuhi nafkah keluarga. Namun, sebagai seorang muslimah, istri juga wajib mencari dan mengamalkan ilmu, membina hubungan baik dengan lingkungan sosial dan masyarakat, dan berhak mendapatkan kehidupan pribadi yang berbahagia seiring dengan kebahagiaannya berkeluarga. Karena itulah Rasulullah saw. tidak pernah melarang istri yang bekerja, menghasilkan uang, menafkahi keluarga, dan kemudian bisa bersedekah dengan uang yang dihasilkannya. Istri Rasulullah saw. sendiri, Khadijah ra., adalah pengusaha sukses dengan jaringan usaha internasional. Zainab ra. dikenal sebagai ummul masakin (ibunya orang-orang miskin) karena aktif dan kreatif dengan hasil karya tangannya dan kemudian hasilnya disedekahkan. Nabi bahkan memuji istri Ibnu Mas’ud yang menafkahi suami dan anaknya karena keterbatasan ekonomi suaminya.

Pada zaman Nabi, selain pengusaha dan perajin, ada sahabat perempuan yang bekerja di perkebunan, menjadi marbot masjid, menjadi guru, menjadi prajurit di garda depan, menjadi perawat dan penyedia logistik perang, dan lain-lain. Semua boleh dilakukan, yang penting di mana pun pekerjaannya dan apapun profesinya, ia bisa menjaga diri dari hal-hal yang dilarang agama, dan sekaligus bisa menjaga keseimbangan karier dan keluarga. Hal ini juga berlaku untuk suami.

Sekali lagi, Nurma perlu bicara kembali dengan calon suami tentang pentingnya kebahagiaan setiap individu dalam keluarga, pentingnya mengedepankan kemaslahatan bersama, pentingnya musyawarah dan saling lega hati antara suami dan istri serta pentingnya sikap saling ingin membahagiakan dalam keluarga. Sakinah mawadah wa rahmah, insya Allah, akan terbentuk jika suami dan istri secara bersama-sama membangun keluarga dengan ikhlas, penuh pengabdian, saling mendukung, dan saling membahagiakan satu sama lain.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

June 2016
M T W T F S S
« May   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

noormagazine © 2019 All Rights Reserved