Aleppo, Kota Bersejarah yang Tinggal Sejarah

096-099 journey aleppo-10

Teks: Ade I Foto: Ade & Berbagai Sumber

Konflik di Suriah tidak hanya menjatuhkan banyak korban jiwa tapi juga menghancurkan peradaban dan bangunan bersejarah yang telah berusia ribuan tahun, termasuk di kota Aleppo.

Ketika menyaksikan tayangan di televisi tentang pasukan ISIS yang membombardir kota Aleppo di Suriah, hati saya serasa ikut remuk. Terbayang pengalaman menghabiskan sekian hari yang paling berkesan dalam hidup saya. Menjelajah kota yang menjadi saksi kejayaan Islam di bawah keperkasaan Panglima Khalid bin Walid yang dilanjutkan Panglima Shalahuddin Al Ayyubi, sang ”Macan Perang Salib”. Kota yang indah ini juga meninggalkan mahakarya dari Dinasti Umayyah.

Aleppo adalah kota terbesar di Suriah dan  menjadi pusat perekonomian negara itu. Di Aleppo pula saya bisa menemukan deretan pertokoan yang menjual barang-barang branded dari Eropa. Dibanding kota lainnya di Suriah, Aleppo memang jauh lebih modern.
Nama Aleppo sendiri awalnya adalah Halaba, dari bahasa Amori, yang berarti besi atau tembaga, sumber utama kota ini pada masa itu. Halaba juga berarti putih, mengacu pada warna tanah dan marmer yang melimpah di sana. Sebelum ISIS menghancurkannya, Aleppo dikenal sebagai pusat industri tenun sutra dan katun terbaik di Suriah serta olahan buah-buahan kering dan kacang-kacangan, terutama kacang pistachio yang dijual di seluruh dunia.

Masjid Agung Bani Umayyah

Keindahan Aleppo tidak bisa dipisahkan dari bangunan bersejarah yang sudah berusia ribuan tahun, salah satunya Masjid Agung Damaskus. Masjid yang juga dikenal dengan sebutan Masjid Umayyah ini awalnya adalah Basilika Santo Yohanes Pembaptis atau Nabi Yahya As. Namun, setelah penaklukan Arab atas Damaskus yang dipimpin Panglima Khalid bin Walid pada 634 Masehi, tempat ini menjadi masjid dan salah satu menaranya dibangun sendiri oleh Sang Panglima. Menara ini dipercaya sebagai Menara Putih tempat kelak turunnya Nabi Isa As. pada akhir zaman.
Masjid ini adalah monumen yang sangat penting bagi umat Islam karena di masjid ini terdapat makam Nabi Yahya As. dan tempat Yazid bin Muawiyah meletakkan kepala Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad Saw. yang gugur dalam pertempuran di Karbala. Panglima Salahuddin Al Ayyubi juga dimakamkan di taman kecil yang terdapat di utara masjid. Masjid lainnya yang tak kalah bersejarah adalah Masjid Bani Umayyah I yang di dalamnya terdapat makam Nabi Zakariyah As., ayahanda Nabi Yahya As. Di masjid ini setiap usai subuh diselenggarakan tausiah yang disiarkan secara langsung oleh televisi setempat. Masjid ini kini sudah porak-poranda, rata dengan tanah.

Citadel of Aleppo
Daya tarik lain Aleppo adalah benteng yang berdiri kokoh di pusat kota. Benteng tersebut mengelilingi sebuah istana dan merupakan kastil tertua dan terluas di dunia. Benteng ini pernah dikuasai bangsa Yunani, Bizantium, Mamluk, dan kemudian direbut oleh Dinasti Ayyubi.
Benteng Aleppo berbentuk elips dan dibangun di ketinggian 50 meter dari kaki bukit dikelilingi parit yang dialiri air. Parit itu sendiri berfungsi untuk melindungi benteng dari musuh yang ingin masuk ke dalam benteng.
Meskipun benteng ini merupakan peninggalan dari peradaban Islam namun benteng ini sendiri sebenarnya dibangun oleh bangsa Neo-Het Acropolis sebagai benteng militer untuk melindungi daerah pertanian mereka. Karena berkali-kali berpindah tangan dari penguasa yang satu ke penguasa lainnya, jadi tidak heran kalau Aleppo menjadi kota yang memiliki beragam model arsitektur, mulai dari sentuhan Byzantium, Seljuk, Mamluk hingga Dinasti Utsmani dan Dinasti Umayyah. Namun, semua kekayaan budaya yang sudah berusia lebih dari 2.000 tahun itu harus berakhir di tangan ISIS. Semua jejak sejarah itu pun kini jadi tinggal sejarah.

Homs, Yang Tinggal Sejarah
Hanya dua jam perjalanan dari Aleppo, terdapat kota bersejarah lainnya yang kini juga sudah porak- poranda. Kota Homs, menyimpan catatan penting dalam sejarah Islam tentang seorang khalifah yang tegas dan jujur.
Meski hanya memimpin selama dua tahun lebih delapan bulan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mampu mengubah Homs menjadi negeri paling makmur hingga tidak ada seorang pun yang layak menerima zakat. Sayang, ISIS telah menghancurkan Homs sekaligus jejak khalifah termasyhur ini.
Memasuki kota Homs, hamparan ladang aprikot menyambut saya. Musim dingin baru saja berlalu. Sisa-sisa salju
di puncak bukit yang mengelilingi kota ini tak ubahnya es krim raksasa yang sedang meleleh. Beberapa anak petani tampak bermain riang di hamparan ladang yang luas itu. Wajah-wajah bahagia mereka masih terekam jelas di ingatan saya sampai saat ini, sampai saya menuliskan kisah ini.
Homs termasuk salah satu kota tua di Suriah dan sarat sejarah. Kota ini tidak hanya memiliki jejak Emperium Romawi dan Yunani Kuno tapi juga catatan emas perjuangan mujahid muslim dalam menaklukkan Romawi di bawah komando Panglima Khalid bin Walid. Krak des Chevaliers, salah satu dari bangunan bersejarah yang kini telah porak- poranda. Beruntung, saya masih berkesempatan menikmati keindahan benteng ini.
Benteng yang dibangun di atas bukit pada ketinggian 650 meter dari permukaan laut ini merupakan peninggalan sejarah yang sangat mengagumkan. Krak des Chevaliers berasal dari bahasa Arab-Perancis yang berarti ”Istana Para Ksatria”. Benteng ini memiliki 13 menara dan dua dinding tinggi dengan dinding bagian dalam lebih tinggi daripada dinding yang ada di bagian luar.
Sementara di antara kedua dinding itu terdapat parit dan lereng curam untuk menyulitkan musuh menyusup ke dalam benteng. Benteng yang dibangun para prajurit Perang Salib ini akhirnya bisa direbut oleh pasukan muslim yang dipimpin Panglima Khalid bin Walid.
Bagian dalam benteng terdapat banyak ruangan termasuk gudang tempat perlengkapan perang dan makanan selama  lima tahun untuk lebih dari 2.000 prajurit dan kudanya. Tak ubahnya sebuah kota kecil, di dalam benteng ini juga terdapat kapel dan tempat tinggal prajurit. Banyak sekali sudut eksotik di benteng yang sudah berusia ribuan tahun ini

Apa Kabar Mereka Sekarang?
Berada di pusat kota Homs, berdiri megah Masjid Khalid bin Walid yang di dalamnya terdapat makam Sang Panglima. Masjid ini juga sudah rata dengan tanah akibat konflik yang melanda Suriah.
Halaman masjid yang luas menjadi pilihan warga kota untuk berpiknik. Mereka duduk di bawah pohon yang ada di halaman masjid dan mengudap setangkup roti sayur dengan jus aprikot. Anak-anak dengan riang membeli es krim dan menjilatinya sambil bercanda penuh kebahagiaan. Di halaman masjid ini saya mengenal Mariam, bocah perempuan yang cantik sekali. Saya juga berkenalan dengan dua orang tentara yang sedang bertugas jaga di halaman masjid. Sama sekali tidak terbayang kalau tentara yang santun ini kelak akan menjadi bagian dalam konflik yang melanda negerinya.
Saya selalu berdoa semoga anak-anak yang saya temui selama perjalanan di Suriah selamat dari kekejaman perang yang tak berperi ini. Aamiin.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

June 2016
M T W T F S S
« May   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

noormagazine © 2017 All Rights Reserved