Agar Diabetasi Aman Puasa

Diabetes concept glucose meter in hand and healthy organic food fruits and vegetables organic green apple, egg plant, orange, tomatoes, cucumbers, parsley, kiwi, grapefruit, salad, peach, cherries on a white background

Diabetes concept glucose meter in hand and healthy organic food fruits and vegetables organic green apple, egg plant, orange, tomatoes, cucumbers, parsley, kiwi, grapefruit, salad, peach, cherries on a white background

Teks: Yudiana I Foto: Yudiana, istimewa

Selain menenangkan pikiran, puasa memberi dampak terhadap turunnya kadar gula dalam darah, kolesterol jahat (LDL), dan tekanan darah sistolik (tekanan darah ketika terjadi kontraksi otot jantung). Seiring dengan meningkatnya kadar kolesterol baik (HDL), efek pikiran tenang ini nyatanya mampu menurunkan
stres. Bagi diabetesi, pahami anjuran dokter dan lakukan kontrol sebelum melakukan ibadah puasa Ramadan.

Penyakit diabetes melitus memang sering disebut mother of desease alias ibunya penyakit karena dapat menimbulkan berbagai penyakit ikutan lain seperti jantung, lever, paru, mata, ginjal, otak, infeksi yang parah, gangren, dan impotensi. Karena masih banyak komplikasi lainnya, penyakit diabetes melitus itu harus diwaspadai
kehadirannya. Terlebih banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes ini merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, kenyataannya, siapa pun bisa mengidap penyakit diabetes ini, baik tua maupun muda. Menurut spesialis endokrin metabolik diabetes Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp. PD., tidak sedikit diabetesi atau penderita diabetes yang tidak sadar kalau dirinya mengidap penyakit gula atau kencing manis ini. ”Hal tersebut boleh jadi karena minimnya informasi seputar penyakit diabetes ini yang beredar di masyarakat. Terutama yang menyangkut dengan gejala-gejalanya.

Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe dua yang faktor penyebabnya adalah keturunan. Namun, sesungguhnya, faktor keturunan semata tidak cukup untuk menyebabkan seseorang
itu terkena diabetes mengingat risikonya yang hanya sebesar lima persen,” ujar Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat Persatuan
Diabetes Indonesia (Persadia) ini, ramah. ”Diabetes tipe dua lebih sering didapati pada mereka yang obesitas atau kegemukan akibat gaya hidup (tak sehat) yang dijalaninya,” imbuh Profesor seusai acara konferensi pers Cegah, Obati, Lawan Diabetes dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Sedunia 2016, beberapa waktu lalu.
Dalam kaitannya dengan penyakit diabetes ini, Profesor Sidartawan menyebutkan bahwa sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tak sedikit dari mereka yang sakit itu ingin melakukan ibadah puasa ketika Ramadan tiba. Padahal, sesungguhnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan tersebut umat muslim bisa saja terbebas dari kewajiban berpuasa. Si sakit bisa menggantinya dengan berpuasa pada hari-hari lainnya ketika sembuh. Namun, mereka yang sakit pada kenyataannya tetap
saja ada yang ingin melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadan.

Kontrol kadar gula darah
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 di atas Allah Swt. jelas telah memberi kemudahan dan tak ingin menimpakan kesusahan bagi siapa saja yang sedang dalam perjalanan untuk boleh tidak berpuasa. Bagi musafir saja diberi kemudahan apalagi bagi mereka yang ditimpa sakit. Terlebih sakit yang diderita seseorang itu tergolong kronis semisal diabetes melitus. Namun, dengan alasan keimanan pula mereka tak ingin alpa menjalankan syariat Islam itu. Bukankah juga dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 disebutkan bahwa hanya orang-orang beriman yang diwajibkan kepadanya untuk berpuasa? Jadi, meski disediakan keringanan, diabetesi tak ingin meninggalkan puasanya. Nah, tinggal bagaimana ”aturan mainnya” bagi mereka yang sakit – khususnya diabetesi – yang ingin berpuasa Ramadan agar aman dan nyaman? Dalam pandangan Profesor Sidartawan, penderita diabetes yang terkelola dengan baik dapat
berpuasa dengan aman. ”Mereka bisa menjalankan ibadah puasa secara normal, asalkan benar-benar memperhatikan dan mematuhi rambu-rambunya, terutama menyangkut kadar gula darah agar tidak fluktuatif selama berpuasa. Pasien harus tahu gejala hipoglikemia dan dehidrasi. Jika kadar glukosa darah kurang dari 63 mg/dl, segera berbuka secara bertahap,” tegas Kepala Divisi Metabolik-Endokrin dan Koordinator Operasional/Pelayanan, Departemen Penyakit Dalam,
FK-UI/ RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, ini. Hipoglikemia adalah kondisi kadar gula darah yang terlalu rendah. Kebalikan kondisi ini adalah hiperglikemia. Kedua kondisi ini memang
harus dihindari oleh diabetesi. ”Karena itu, diabetesi yang ingin berpuasa sebelumnya harus telah lebih dulu meminta saran dokter ahli mengenai kondisi kesehatannya dan mendapatkan obat-obatan
yang sesuai selama berpuasa,” ujarnya lagi. Perencanaan maupun keputusan untuk puasa atau tidak puasa pada diabetesi sifatnya individual atau berbeda bagi setiap diabetesi. Dokter ahli hanya memberikan saran. Demikian juga persiapan puasa itu sebaiknya dilakukan jauh waktu sebelum Ramadan tiba….

Ingin tahu informasi selengkapnya? Baca Majalah Noor Vol. 14 tahun 2016 yaa 

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

June 2016
M T W T F S S
« May   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

noormagazine © 2019 All Rights Reserved