Spiritualitas dibalik Seksualitas

016-017 worship to allah-1

Teks: Umar Fayumi

Seksualitas adalah satu dari selaksa anugerah kehidupan yang dikaruniakan Allah bagi umat manusia. Diantara maksud dan tujuan utamanya adalah sebagai media reproduksi untuk menjaga keberlangsungan generasi dan sebagai media rekreasi untuk menyalurkan hasrat cinta dan kasih asmara di antara sesama pasangan.

Keberadaan seksualitas sebagai media reproduksi dan rekreasi
inilah yang dalam pandangan Islam dinilai sebagai peristiwa suci dan bermakna yang harus selalu dijaga kesucian dan kebermaknaannya. Oleh sebab itulah maka Islam hadir membawakan ajaran dan sistem nilai seksualitas yang merahmati dan membuahkan kedamaian.

Akidah seksualitas
Hal paling mendasar dari ajaran akidah seksualitas menurut konsepsi Islam adalah hubungannya yang sangat mendalam dengan nilai-nilai ketuhanan. Dalam pandangan Islam seksualitas diposisikan sebagai bagian tak terpisahkan dari tugas penghambaan diri atau ibadah kepada Allah. Ajaran akidah seksualitas yang dikembangkan oleh Islam bermaksud mendidik umatnya untuk
dapat menyadari dan menghayati dengan sungguhsungguh, sebagaimana ditegaskan dalam AlquranQS.ar-Rum, 30: 21, bahwa diantara bentuk ekspresi  sifat Kemahaan Allah adalah penciptaan manusia secara berpasang-pasangan, yakni laki-laki dan perempuan, agar dapat dihadirkan di tengah-tengah mereka cita kehidupan sosial yang tenang dan damai (sakinah) melalui jalinan cinta asmara (mawaddah) dan hubungan kasih sayang (rahmah) dalam bingkai pernikahan yang suci, luhur dan bermakna.

Makna penghambaan diri kepada Allah dalam rangka mensyukuri ekspresi sifat-sifat kemahaan-Nya inilah yang mesti disadari, dihayati dan diamalkan oleh siapapun yang sedang dan akan menjalankan kegiatan seksual dalam bingkai pernikahan suci, luhur dan bermakna. Seksualitas yang dilakukan dengan bingkai nilai ketuhanan seperti ini sangat potensial untuk dikembangkan
lebih lanjut menjadi suluk atau laku spiritual yang dapat mengantarkan perjalanan jiwa kita menuju tangga ma’rifatullah. Konsepsi inilah yang disebut sebagai akidah seksualitas.

Adapun indikator yang bisa kita jadikan tolok ukur untuk mengetahui tingkat keberhasilan kita dalam menerapkan ajaran akidah seksualitas ini antara lainnya adalah semakin menguatnya ekspresi jiwa kerahmatan dan kasih sayang kita dalam setiap tindakan, sikap dan perilaku kita sehari-hari, baik terhadap suami atau isteri yang menjadi pasangan hidup kita, kepada anak-anak dan keluarga besar kita, kepada para tetangga dan sahabat-sahabat kita, ataupun kepada sesama manusia lainnya, baik
di dalam rumah, di masjid-masjid, di kantor-kantor, ataupun di tempat-tempat privasi dan publik lainnya. Pendek kata, “ritual” jimak atau persetubuhan (seksualitas) yang halal dan berkualitas secara spiritual, yang dilakukan sesuai ajaran akidah seksualitas menurut konsepsi Islam, pada gilirannya akan berpengaruh secara langsung pada perubahan jiwa, mental dan perilaku para pelakunya hingga menjadi pribadi-pribadi yang berkerahmatan,penuh cinta dan kasih sayang dalam segala aspek kehidupannya.

Syariat seksualitas

Selain untuk menjalankan tugas penghambaan diri kepada Allah, seksualitas juga dihadirkan sebagai media pengejawantahan tugas kekhalifahan kita terhadap sesama hamba Allah, khususnya terhadap pasangan hidup dan anak-anak kita sendiri. Karena
itulah Islam kemudian mengajarkan tata aturan seksualitas yang berbasis pada asas menjaga keturunan (hifdh an-nasl) serta menjamin ketertiban dan keadilan sosial (hifdh al-huquq).

Terkait hal ini seksualitas dipandang oleh syariat Islam sebagai media reproduksi untuk menjaga keberlangsungan generasi umat, juga sebagai media harmonisasi sosial untuk menguatkan persatuan dan kesatuan umat. Konsepsi inilah yang disebut sebagai syariat seksualitas. Lebih lanjut, dalam rangka memastikan dan menjamin terlaksananya syariat ini maka diturunkanlah seperangkat hukum perkawinan (fiqh an-nikah) yang di dalamnya membahas semua materi hukum yang berhubungan dengan perkawinan dan rumah tangga, yaitu meliputi kriteria sah dan batalnya pernikahan, hak dan kewajiban suami, hak dan kewajiban isteri, hak dan kewajiban
orang tua, hak dan kewajiban anak, perceraian, pembagian harta waris, dan lain sebagainya. Dalam hal ini ketaatan kepada hukum secara otomatis menjadi indikator utama untuk mengetahui tingkat keberhasilan kita menjalankan syariat seksualitas. Melalui indikator yang sama kita juga bisa mengukur pencapaian kita sendiri apakah
sudah benar-benar dapat melaksanakan tugas dasar kekhalifahan kita dalam konteks rumah tangga dan keluarga kita atau belum.
Yang perlu dicatat bahwa nilai inti dari tugas kekhalifahan kita dalam ranah seksualitas dan rumah tangga sejatinya adalah mewujudkan kerahmatan untuk semua, yaitu dengan senantiasa
menebarkan cinta dan kasih sayang yang tulus, melimpahkan pemberian-pemberian yang baik tanpa pamrih, serta menjaga harmoni dan keselarasan bersama.

Akhlak seksualitas
Pada tataran berikutnya kita juga perlu mempelajari serta mengamalkan akhlak seksualitas yang berbasis pada nilai-nilai kemanusiaan, yakni memperlakukan pasangan seksualnya sebagai manusia seutuhnya. Diantara akhlak seksualitas yang paling mendasar ialah:

  1. Mahabbah: berarti cinta dan kasih sayang yang tulus. Semua gerak-gerik yang mucul berupa pandangan, ucapan, sentuhan, dekapan atau lainnya harus benar-benar mencerminkan
    perasaan cinta dan kasih sayang dari dalam hati
    yang tulus.
  2. Itsar: berarti siap mengalah untuk lebih mengutamakan kemaslahatan bersama atau mendahulukan kepentingan pihak lain yang baik ketimbang memaksakan kepentingan baiknya sendiri.
  3. Ihsan: berarti selalu berpikir dan bertindak memberi kepada pihak lain tanpa mengharapkan balasan apapun dari pemberian tersebut.
  4. Haya’: berarti kuat rasa malunya sehingga dalam bertindak dan berbuat apapun, termasuk ketika menyampaikan pendapat dan keinginan kepada pihak lain, semuanya dilakukan dengan cara yang anggun, sopan, halus, lembut dan santun.
  5. Tawadhu’: berarti rendah hati yang tercermin pada sikap lebih suka melihat kekurangan diri sendiri daripada melihat kekurangan pihak lain, serta lebih suka belajar dan mendengarkan nasihat dari pasangannya.
  6. Qana’ah: berarti rasa penerimaan yang tinggi terhadap pemberian apapun, yakni mau menerima apa adanya dengan kelegaan hati yang tulus.
  7. Syukr: berarti pandai berterima kasih atas pemberian apapun, yakni pandai menghargai pemberian.
  8. Shabr: berarti teguh berbuat kebaikan dan tabah menghadapi berbagai macam rintangan.
  9. Zuhd: berarti terbebas hati dan pikirannya dari kemelekatan terhadap kesenangan-kesenangan duniawi.
WordPress database error Table './k8918510_noor/wp_comments' is marked as crashed and last (automatic?) repair failed for query SELECT SQL_CALC_FOUND_ROWS wp_comments.comment_ID FROM wp_comments WHERE ( comment_approved = '1' ) AND comment_post_ID = 7777 AND comment_parent = 0 ORDER BY wp_comments.comment_date_gmt ASC, wp_comments.comment_ID ASC made by require('wp-blog-header.php'), require_once('wp-includes/template-loader.php'), include('/themes/unspoken/single.php'), get_template_part, locate_template, load_template, require('/themes/unspoken/loop-single.php'), comments_template, WP_Comment_Query->__construct, WP_Comment_Query->query, WP_Comment_Query->get_comments, WP_Comment_Query->get_comment_ids
Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

April 2016
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

noormagazine © 2019 All Rights Reserved