Manusia Harus Bahagia

oleh Umar Fayumi

Hidup bahagia adalah dambaan setiap orang meskipun tidak setiap orang beruntung mendapatkan anugerah hidup bahagia. Sebenarnya, ”hidup bahagia” itu sendiri sangat terbuka bagi siapa saja yang menyiapkan diri untuk menyongsong kehadirannya. Pasalnya, Allah telah menciptakan manusia dengan komposisi-komposisi ragawi dan ruhani yang secara alamiah akan menuntunnya untuk hidup bahagia.

Hormon Kebahagiaan
Di antara komposisi itu adalah hormon kebahagiaan. Dr. Shigeo Haruyama, ahli bedah asal Jepang, pemilik klinik pribadi yang memadukan pengobatan ala Timur dan Barat, dalam bukunya, The Miracle of Endorphin, menyebutkan bahwa otak manusia secara alamiah bisa memproduksi sekitar 20 jenis hormon kebahagiaan. Salah satunya, dan yang paling berkhasiat, adalah hormon betaendorfin.

Adanya hormon-hormon yang secara alamiah berefek langsung terhadap munculnya rasa nyaman, tenteram, dan senang ini pada gilirannya memberikan kesan sangat kuat kepada kita bahwa sesungguhnya manusia diciptakan ”untuk hidup bahagia”. Jadi, betapa meruginya orang-orang yang belum dapat membuka pintu pribadinya untuk menyongsong ”hidup bahagia” yang hendak datang menyapa. Datang bukan dari luar dirinya, tapi dari dalam dirinya sendiri.

Salah satu penemuan unik yang disampaikan Dr. Shiego adalah adanya hubungan timbal balik yang sangat ajaib antara pikiran atau cara pandang yang digunakan oleh manusia dengan fenomena pelipatgandaan produksi hormon kebahagiaannya. Jika seseorang selalu berpikiran positif dalam menghadapi keadaan apapun, otaknya pada saat itu juga akan memproduksi lebih banyak hormon kebahagiaan (betaendorfin). Begitu pula sebaliknya.

Reaksi Antar-Energi
Ada apa dengan pikiran? Sejak dahulu kala tidak sedikit kaum bijak dari kalangan ruhaniawan yang menegaskan bahwa pikiran manusia memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap fenomena dirinya sendiri dan alam di sekitarnya. Apapun yang dipikirkan manusia akan menyebabkan reaksi alamiah bagi dirinya dan alam sekitar. Jika berpikiran baik dan positif, diri sendiri dan alam di sekelilingnya akan merasakan langsung efek positif dari kebajikannya itu. Begitu pula sebaliknya.

Belakangan, ilmu pengetahuan modern menemukan fakta menarik yang membenarkan hal itu. Secara ilmiah ditemukan bahwa alam semesta ini sejatinya merupakan gumpalan-gumpalan energi yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Termasuk berinteraksi dengan energi yang terpancar dari manusia.

Adapun manusia sendiri, setiap apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuatnya pasti akan memancarkan energi-energi tertentu; baik berupa gelombang elektromagnetik, radiasi, ataupun yang lainnya, yang secara langsung akan berinteraksi dengan energi kosmik. Hasil dari interaksi itu efeknya akan berbalik kepada manusia itu sendiri dan lingkungan sekitarnya. Artinya, jika energi yang terpancar
dari manusia itu positif, efek baliknya juga positif. Demikian juga ketika energi yang dipancarkannya negatif, efek baliknya juga negatif.

Kekuatan Ruhani
Hal apa saja yang bisa membangkitkan energi positif manusia, yang efek baliknya antara lain adalah pelipatgandaan produksi hormon kebahagiaan? Jawabannya sederhana: kekuatan ruhani; yakni kekuatan jiwa dan batin yang senantiasa menjaga empat hal berikut:

Ikhlas: siap menerima keadaan apapun dengan kerelaan hati;

Arif: dapat melihat sisi positif dari segala hal;

Syukur: bisa menikmati keadaan apapun dengan • memandangnya sebagai anugerah;

Cinta: senantiasa menebarkan kerahmatan • dan kasih sayang kepada sesama ciptaan-Nya, baik dilakukan dalam bentuk pikiran, ucapan ataupun perbuatan.

Kekuatan ruhani yang merupakan gabungan dari sikap-sikap luhur yang bersumber dari dasar jiwa dan batin yang paling dalam itulah yang mampu meningkatkan energi positif manusia. Sebuah energi yang bisa dipastikan akan berefek balik secara positif kepada si manusia itu sendiri. Di antaranya adalah mengalirnya rasa nyaman, damai, tenteram, dan bahagia tak bertepi yang merasuk ke dalam
setiap relung jiwa dan ruang batinnya. Getaran-getaran kedamaian dan kebahagiaan itu, bahkan, bisa dirasakan oleh siapapun yang kebetulan sedang berdekatan dengannya.

Terhadap manusia-manusia bahagia seperti itu dunia pun ikut tersenyum bahagia. Alam semesta, bahkan, akan senantiasa mendoakan dan berkenan memberikan yang terbaik dari apa yang dimilikinya sebagai wujud rasa syukur dan ungkapan terima kasih kepadanya. Pasalnya, energi positif yang terpancar darinya telah memberikan banyak efek kebaikan kepada alam itu sendiri.
Mungkin makna seperti inilah yang hendak diisyaratkan Alquran, QS. Ar-Ra’d/13 ayat 28, yang menyebutkan bahwa dengan terus berzikir kepada Allah niscaya jiwa kita akan mendapatkan ketenteraman dan kebahagiaan. Di dalam Alquran, QS. Thaha/20 ayat 124, juga disebutkan bahwa siapapun yang suka berpaling dan tidak mau berzikir kepada-Nya niscaya akan mendapatkan kehidupan yang menyesakkan dan penuh kenestapaan.
Makna Syukur Lebih lanjut, makna syukur bukanlah sekadar mengucap, ”Alhamdulillah.” Namun, lebih dari itu, makna syukur adalah menerima apapun yang diberikan dan ditakdirkan oleh Allah kepada kita sebagai anugerah terbaik yang mesti kita dayagunakan untuk kemaslahatan dunia dan akhirat. Kalupun pernah mempunyai masa lalu yang buruk, misalnya, kita akan segera bertobat tanpa harus terjerumus dalam kesedihan masa lalu yang mendalam atau menyalah-nyalahkan diri dan keadaan yang melampaui batas. Kesalahan masa lalu itu kita terima sebagai pengalaman hidup yang notabene juga merupakan anugerah dari Allah agar kita bisa mencecap makna kebenaran dan kebaikan
yang lebih mendalam disebabkan kita pernah mengalami betapa tersiksanya hidup sebelumnya yang dipenuhi pengalaman buruk.
Karena itu, dengan pandangan seperti ini, masa lalu yang buruk sekalipun mesti diterima dan dipandang sebagai anugerah dan harus kita syukuri.

Itulah makna syukur; yaitu mensyukuri keadaan apapun. Jika sikap demikian yang kita lakukan, Allah pun akan menyusulkan kenikmatan demi kenikmatan baru dalam kehidupan kita. Namun, jika mengufuri nikmat-nikmat-Nya, kita pun dengan sendirinya akan tersiksa. Bukan karena Allah hendak menyiksa kita melainkan karena kita sendiri yang akan merasa tersiksa akibat perbuatan buruk kita sendiri.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Al-Qur’an dan Hadits hari ini.

Sampaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu (HR Abu Dawud & Tirmidzi)

March 2016
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

noormagazine © 2019 All Rights Reserved